Neng Adalah …

Posted on Updated on

Hujan turun deras dini hari. Bunyi air yang terjun dari langit itu berderakan ramai menghantam atap seng yang rendah. Saya bersyukur kami memutuskan bermalam di pondok ini. Bagaimana pun, lebih nyaman berada di bawah atap yang kokoh, dinding yang rapat, dan lantai yang hangat daripada diguyur hujan di dalam tenda nilon yang tipis dan di atas tanah yang lembab.

Adalah Opik mengusulkan bermalam di pondok entah milik siapa di tengah padang di kaki Pegunungan Meratus Hilir ini. Sejak kami menyeberang dari Tiwingan, awan sudah berarak di atas danau.  Gunung-gunung biru di kejauhan sana juga berpayung awan.

Lalu hujan gerimis pukul tiga sore mengantar kami dari rumah Pak RT, tempat kami melapor numpang lewat dan mengisi buku tamu dengan alamat yang selalu sama: Sekretariat Kompas Borneo Unlam, Gedung UKM Kampus Universitas Lambung Mangkurat, Jalan Brigjen H Hassan Basry, Kayutangi, Banjarmasin.

“Abahnya masih di kebun, Pik…” kata perempuan itu kepada Opik. Dari beberapa kali kunjungan sebelumnya, kami lumayan dikenal di Paau, Karangan Haur, 90 menit plus 60 menit dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Catatan saya kabur tentang siapa nama Pak RT di Paau itu, begitu pula dengan nama istrinya, dan anaknya itu. Tapi saya ingat kami diberi sangu sebungkus besar kantong plastik kacang rebus dan sebungkus koran kacang goreng.

Paau dan Belangian, desa-desa sepanjang Danau Riam Kanan memang penghasil kacang tanah yang gurih. Sepanjang jalan hingga sungai, tak henti-hentinya kami mengunyah kacang rebus, dan, hehehe, menikmati bagaimana rasanya membuang kulit kacang sepanjang jalan.

“Itu pupuk, dari tanah kembali ke tanah, tak akan jadi sampah,” kata Opik.

Sebelum tiba di sungai, kami bertemu serombongan mahasiswa. Ada 6 lelaki dan seorang perempuan. Seorang mengenal Opik dengan baik dan kami semua bersalaman. Sekarang ada tujuh lelaki gondrong dan seorang perempuan berambut panjang, hehehe.

“Berdua aja, Pik?”

“Berdua aja,” kata Opik.

“Acara apa?”

Acara saya dan Opik jalan-jalan saja. Seminggu sebelum ini, tiba-tiba saja kita kangen hutan-hutan di selatan. Maka pukul sepuluh pagi hari Sabtu saya dan Opik sudah di dalam Damri ke Banjarbaru, makan siang di dermaga Tiwingan, dan sempat tertidur dalam perjalanan klotok ke Karangan Haur.   

“Kami pemantapan anggota baru,” kata si teman itu. Si perempuan itulah ternyata sang anggota baru, yang tersenyum dengan wajah lelah tapi bangga.  Mereka Mapala Oryza Sativa dari Fakultas Pertanian Universitas Achmad Yani di Banjarbaru. 

Pemantapan biasanya tahapan terakhir sebelum  calon anggota—atau ada juga yang menyebutnya anggota muda—dilantik menjadi anggota penuh organisasi kepencitaalaman.  Di KBU, setelah lulus pemantapan calon anggota mendapat nomor anggota yang melekat padanya seumur hidupnya—dan biasanya kami tuliskan dengan bangga di properti masing-masing. Dari suasana selama dan sepanjang pemantapan pula setiap angkatan mendapatkan namanya. Karena hutan-hutan selama pemantapannya, Opik seorang Wana. Sebab gunung-gunung yang kami lalui, saya menjadi seorang Adri. Saya anggota ke-302, Opik anggota ke 299.

Kami berbagi kacang rebus sebelum bersalaman dan berpisah. Mereka ke kampung untuk bermalam dan besok pulang pagi-pagi ke Banjarbaru. Kami meneruskan perjalanan ke timur, ke arah gunung-gunung gelap yang kini menyangga awan hitam.

***

Pemilik pondok ini pasti seseorang di kampung. Di dinding papan diselipkan sabit dan parang. Rantai gergaji mesin digantungkan pada paku di tiang. Alat penyemprot hama ada di sudut. Di dekatnya ada juga racun hamanya di dalam kotak yang dikunci. Ada rak dimana diatur pakaian anak-anak perempuan, ada pensil dan buku tulis. Ada lampu teplok dengan semprong.

Ada kitab suci di atas karung gabah. Saya membukanya pada halaman yang dilipat—tanda terakhir sang pembaca mengakhiri resitalnya. Ujung halaman yang dilipat itu menunjuk ke angka nomor surah dan ayat. Kebiasaan urang Banjar, ujung halaman itu menandai tempat memulai membaca pada kesempatan berikutnya.

Si pembaca di pondok itu, mungkin pada Rabu malam atau Kamis pagi,  berhenti tepat saat akan memulai surah kesebelas.

Dua hari yang lalu, di mushaf kecil yang ada di bagian paling atas carrier, saya juga membuat lipatan yang sama persis seperti tanda yang dibuat si pembaca di pondok ini.

Seperti semua peralatan dan gadget kita hari ini, bila semua terhubung, maka sinkronisasi itu keniscayaan. Seperti dropbox, seperti …

Di antara berkarung-karung gabah itu, ada  sedikit yang sudah ditumbuk menjadi beras merah. Ada cabai dan sayur di pekarangan. Ada bonus pepaya yang sudah masak.

***

Pukul setengah delapan, makan malam disajikan dengan piring-piring porselen yang punya pondok. Ada air putih hangat. Nasi merah yang berkepul uapnya. Opik menggoreng ikan asin yang baunya menyebar.  Meski hanya berdua dalam radius beberapa kilometer itu, saya yakin, tak hanya saya yang meneteskan air liur, hehehe.

Saya  membuat sayur bening dari daun katuk. Ada rebusan daun gumbili dan sambal. Ada pepaya yang dipotong memanjang.  Opik juga masih merebus air lagi untuk kopi.

Ikan asin dan kopi dan rokok Opik kami beli di tokoserbaada di terminal di Simpang Empat Banjarbaru. Yang lain dari dalam pondok ini dan pekarangannya.

Tuhan bersama orang-orang yang bersyukur. Saya merasa seperti Laura Ingalls di pondok para juru ukur Di Pantai Danau Perak. Kenyang, tenang, senang. Di tahun 1879, Pa akan mengambil biolanya dan memainkan beberapa lagu, dan merokok pipa setelah makan malam yang nyaman dan Ma melanjutkan rajutannya, sementara Laura menari dengan Mary sebelum diantar tidur ole Pa.

Di tahun 1997, di ujung Paau yang tak lebih terpencil dari De Smet, malam itu  ada musik dari Radio Republik Indonesia dari radio transistor yang dibawa Opik.

Usai warta berita pukul sembilan Opik mematikan radionya. “Ceritalah, kenapa kau merahasiakan Neng dari kita semua di KBU,” kata Opik.

Saya menarik napas, tersenyum, dan menyeruput kopi. Opik mengisap rokoknya. Menunggu … ***

Satu respons untuk “Neng Adalah …

    erlin abiyanto said:
    Juni 18, 2016 pukul 8:56 am

    ulun asa de javu
    hahaa

Tinggalkan komentar