… Julia Roberts
Hari kami, saya dan Neng berkenalan adalah suatu Jumat sore di bulan April, setahun sebelum reformasi, demikian catatan harian saya menyebutkan. Banjarmasin mulai memasuki masa riuh kampanye. Kami di Kompas Borneo Unlam yang bertahun-tahun didoktrin untuk tidak ikut campur dalam politik praktis sebagai organisasi, sedang menjalankan program yang menyenangkan ini: kursus pencinta alam untuk siswa SMA.
Lebih menyenangkan lagi, peserta program ini, dan memang sejak awalnya dibuat khusus untuk mereka, adalah para siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4. Ini sekolah yang siswanya 99 persen perempuan. Satu persen siswa laki-laki yang ada pun sebagiannya berkelakuan dan bergaya seperti perempuan.
Dulu sebutannya SMKK, sekolah menengah keterampilan keluarga. Di sekolah ini diajarkan memasak, membuat pola pakaian dan menjahitnya, menata kamar dan tempat tidur, mencuci pakaian dan menyetrika. Ada guru khusus seperti Pak Ambiya yang punya salon sendiri yang mengajarkan tata rias wajah dan rambut. Ada jurusan tata boga, tata busana, pariwisata, dan kecantikan.
Karena itu SMKN 4 punya beauty salon, laundry, hingga hotel latihan yang dikelola profesional di sekolah. Di hotel itu pernah menginap ‘Si Mata Elang, jagoan bintang film laga Indonesia Advent Bangun yang kemudian main sinetron laga juga dan terakhir jadi pendeta.
Di sisi yang lain, Kelompok Mahasiswa Pencinta Alam dan Seni “Borneo” Universitas Lambung Mangkurat (atau biasa disebut Kompas saja, atau KBU saja) itu 90 persen anggotanya laki-laki. Sepuluh persen perempuan yang juga menjadi anggota, bernyali dan punya kekuatan lelaki. Meski tetap cantik, mereka umumnya bergaya (memilih mode pakaian, terutama) seperti kami para anggota yang lelaki.
Di KBU diajarkan bagaimana bertahan hidup di alam bebas (jadi ada juga masak-memasak), memahami peta dan menentukan arah, menyusun barang dan perlengkapan di dalam ransel, lalu mendaki gunung, memanjat tebing, menyusuri sungai dan menikmati arus deras, menembus kegelapan gua, berdebat dan berorganisasi, merencanakan perjalanan, dan, emm, memang tidak resmi ada di kurikulum dan tidak resmi diajarkan: juga merayu wanita.
Saya tak pernah lulus pelajaran yang disebut terakhir itu, meski lulus gemilang semua prasyaratnya. Bang Sapar, seorang senior, yang ketika itu pacarnya si Vivi yang cantik itu berkata: ”Kamu naik gunung, memanjat tebing, berani menggantungkan hidupmu pada seutas tali yang dipasang oleh orang lain, masa merayu binian tak bisa?
Hahaha. Saat itu ya begitulah.
Saya memang tak pernah lancar bicara dengan perempuan, tapi bisa memenangkan hati mereka dengan kata-kata yang dituliskan.
Karena kebanyakan bergaul dengan buku yang diam dan perpustakaan yang hening, keterampilan berbicara saya terlambat datang.
Saya baru menyadarinya setelah beberapa lama–karena buku tak perlu dirayu, saya tak mengharuskan diri lancar bicara. Buku akan ikut saya dengan sukarela asal saya bisa membayar, atau memenuhi prosedur peminjaman dengan benar. Bahkan, bila cukup berani, Anda bisa menculik sebuah buku tanpa ketahuan dari perpustakaan dan tidak pernah mengembalikannya selama-lamanya.
***
Bagaimana SMKN 4 yang serba feminim itu tiba-tiba ingin merasakan anak-anaknya dihajar matahari dan disayat dingin angin tebing mulanya tak dipahami. Tapi lomba Wiyata Mandala membuat semuanya jelas.
Mungkin lomba ini masih berlangsung sampai hari ini. Lomba sekolah terbaik dengan kriteria banyak sekali. Sekolah saya dulu, SMAN 7 Banjarmasin, mendapat penghargaan Wiyata Mandala ini beberapa kali.
“Kami ingin memberi anak-anak pengalaman yang lain dari yang lain yang bisa dialami dari sekolah yang mengajarkan hal-hal khusus seperti sekolah kami,” kata Pak Iwan, guru penghubung dalam program ini.
Pak Iwan berperawakan kecil, dengan cara melirik seperti penari bali dan gestur yang lentik.
Lalu kenapa KBU yang dipilih ternyata agak sedikit nepotisme. Ternyata ada guru di SMKN 4 yang senior kami di KBU—guru perempuan—yang baru kami sadari setelah mengecek lagi buku tebal daftar anggota itu. Beliau itulah yang merekomendasikan kegiatan kepencintaalaman berdasar keaktivannya di KBU di tahun 80-an.
Sebab lain, karena KBU itu dekat. Antara sekretariat kami di kampus Unlam di Kayutangi dengan SMKN-4 itu hanya lebih kurang 500 meter jaraknya, 150 meter dari sekretariat ke gerbang kampus ke Jalan Brigjen Haji Hasan Basry, lalu ke utara 250 meter, dan menyeberang jalan itu 50 meter untuk sampai di halaman dalam sekolah.
Sebab yang lain lagi, karena dinding panjat dan berbagai fasilitas lain yang kami punya, dan juga faktor Guru Anang.
Anang yang jangkung mahasiswa Fakultas Teknik. Asalnya dari Birayang, keturunan ‘bubuhan’ Banjar Bukit di Datar Alai, dataran yang berada di ketinggian 1.000-1.200 meter dari permukaan laut di Pegunungan Meratus, yang wanitanya bermata agak sipit, berkulit kuning langsat, langsing, namun sigap dengan pekerjaan di ladang dan di rumah. Sebab ini, Anang juga disebut Anang Alai, seorang Wana bernomor 287 yang senioritasnya setara hingga dua angkatan di atasnya, para Bhumi di tahun 1990.
Anang bertetangga tempat kost dengan Pak Iwan rupanya. Anang Alai yang juga bermata sipit adalah Guru Anang, yang menjadi petualang dan pencinta alam secara alami karena alam dan lingkungannya. Karena itulah, kami memanggilnya dengan takzim, Guru Anang.
***
Mulanya ketika Guru Anang pertama kali menyampaikan permintaan SMKN 4 akan semacam kursus kepencintaalaman itu, ia sampai meminta Dewan Pengurus (DP) untuk agak merahasiakannya sampai semuanya siap.
Permintaan itu secara teknis tidak ada kesulitannya untuk diwujudkan. Menurut Guru Anang, yang sulit dan tidak bisa diduga adalah dampaknya.
Kalian tahu bukan, bagaimana dampak dari laki-laki dan perempuan yang berada dalam kegiatan yang sama dalam waktu yang cukup lama?
Ya, itu bisa mengubah dan mengguncangkan dunia. Syukur kalau menjadi lebih baik. Bila menjadi lebih buruk?
KBU yang penuh lelaki lajang yang tengah menggelora, diminta mengurusi perempuan-perempuan muda menjelang dewasa yang baru mekar melihat dunia…amboi…
Karena itu DP merasa bertanggungjawab untuk melindungi anggota-anggotanya dari pengaruh (yang mungkin buruk) yang mungkin muncul karena sekretariat diserbu makhluk-makhluk dari Venus itu.
Permintaan SMKN-4 diterima. Namun program itu dikemas resmi sekali sehingga anggota kami yang paling liar (juga siswa sekolah yang paling nakal) sekali pun terpaksa tunduk dalam aturan.
***
Rapat DP menunjuk saya menjadi Kepala Sekolah dari program pelatihan tersebut. Guru Anang menjadi penasihatnya.
Alasan resmi penunjukan saya karena saya mahasiswa fakultas keguruan, karena itu mengerti bagaimana menyusun kurikulum, tahu kemana dan apa tujuan kursus ini (komunikasi dengan Pak Iwan dan arahan Guru Anang), bisa menerjemahkannya dalam kegiatan yang bisa diukur keberhasilannya, dan memahami perkembangan peserta didik—khususnya anak-anak seusia siswa SMKN-4 itu.
Bagus sekali bukan. Alasan itu sesungguhnya bisa dipenuhi siapa saja mahasiswa FKIP setelah kuliah 7 semester.
“Tapi tidak semua mahasiswa FKIP anggota KBU,” kata Rudy Firmansyah, ketua umum kami saat itu. Bang Rudy meninggal tahun ini karena sakit, semoga Allah melapangkan dan menerangkan kuburnya.
Maka saya menyusun program untuk 12 minggu, saya menunjuk instruktur—teman-teman yang terbaik di bidangnya masing-masing, seperti Odot di panjat tebing, Awi dan Sapar di survival, Guru Anang sendiri di navigasi darat, Oegoer yang pemain sepakbola itu di kebugaran fisik, Amang Efeet mengajar manajemen perjalanan…
Kawan-kawan itu boleh memilih asistennya masing-masing. Odot meminta bantuan Amat, yang ketika itu anggota baru dengan bakat memanjat luar biasa. Oegoer dibantu RO dan Icam. Awi dan Sapar itu duet survivor yang saya kenal sejak pertama di KBU tahun 1992.
Saya melihat dan mengawasi bagaimana jalannya pelajaran, dan kemudian mengevaluasinya, melapor kepada Ketua Umum dan Pak Iwan si guru penghubung.
Kepala sekolah, tentu saja, tidak mengajar. Ia manajer. Tidak berhadapan langsung dengan siswa kecuali saat upacara bendera. Kecuali juga dalam keadaan terpaksa ketika tidak ada lagi guru pengganti yang bisa disuruh.
Saya bak jenderal yang mengawasi pertempuran dari kejauhan dan menerima laporan dari komandan lapangan.
Itulah yang saya lakukan. Setelah sambutan sebentar, yang adalah perkenalan singkat dan ucapan selamat datang di lingkungan dan tradisi KBU, saya hampir tak bersentuhan lagi secara langsung dengan anak-anak itu.
Kepala Sekolah harus punya wibawa, bukan.
***
“Jadi rahasia tentang Neng ini karena ikam kepala sekolahnya?” tanya Opik, setengah bertanya setengah tertawa.
Salah satunya iya. Salah lainnya, karena apa yang kami khawatirkan tentang dunia yang gonjang-ganjing karena serbuan para makhluk dari Venus itu memang terjadi meski dampaknya pada KBU sebagai organisasi dan pada setiap orang baik anggota maupun bukan bukan anggota, berbeda-beda.
Berbagai gosip bersliweran. Seru. Sekretariat tambah ramai, tidak hanya oleh anggota kami sendiri, tapi juga oleh teman-teman lain, termasuk oleh orangtua, kakak, adik, dari para siswa peserta program itu. Semut mana yang tidak tertarik pada gula yang sedemikian banyak?
Namun tidak ada yang menghubungkan saya secara pribadi dengan siapa pun dari siswa-siswa itu.
“Jadi bagaimana kam memulainya, Nov. Kenalan di prusiking, terus apa…?”
***
Bunyi jangkrik menghilang. Burung hantu di pohon di luar itu pun diam. Hujan mulai turun.
Saya mendengar bunyi napas halus yang teratur di samping saya. Saya menoleh dan tersenyum. Di dalam remang tenda, Neng sering terlihat paling mirip dengan Julia Roberts. Hidungnya, matanya, alisnya, tentu saja senyumnya dengan bibir tipis dan lebar itu. Saya cium keningnya dan kembali memejamkan mata.
Julia Roberts, emmm … ***