Neng
Di ketinggian 12 meter dari tanah, kami berkenalan. Dia bergelantungan, dan saya tengah duduk di satu palang sambil memeluk besi siku 3 mm yang menegakkan menara itu.
“Di rumah, oleh mama ulun dikiau ‘Neng’,” katanya seraya menjauhkan dadanya dari kernmantel[1] 10 mm static yang dipanjatnya.
Saya ingat, kami tidak bersalaman. Ia sedang sibuk dengan segala peralatan yang melekat di badannya. Jarak kami juga terpisah sekitar satu meter lebih. Saya pun terikat pada palang yang lebih tinggi dengan webbing[2].
Ulun, dalam Bahasa Banjar, adalah sebutan untuk diri sendiri bila berbicara dengan yang dianggap lebih tua, lebih senior, atau pada suasana yang lain dan level komunikasi yang lain, untuk menunjukkan sayang dan penghormatan kepada lawan bicara—meskipun si lawan bicara tidak lebih tua atau tidak lebih terhormat.
‘Dikiau’ means ‘called’, atau ‘dipanggil’, ‘disebut’ dalam Bahasa Indonesia.
***
Sebelumnya dia dengan lincah memanjat tali statis ini hingga bertemu saya di ketinggian itu. Begitu sampai gilirannya, ia terlihat tidak ragu sedikit pun. Memasang ikalan kermantel, membuat simpul prusik, mengaitkannya kepada karabiner[3] yang terpasang di harnessnya, dan mulai memanjat naik.
Dalam 4 menit ia mencapai tempat saya duduk, yang sejajar dengan simpul pada kermantel itu. Ini batas yang harus dipanjatnya. Dari sini ia harus turun kembali.
“Halo,…” sapa saya.
“Halo bang,” katanya sambil mengatur napas.
“Istirahatlah sebentar,” kata saya. “Silakan liat pemandangan dulu.”
Di tebing alam, itu salah satu hadiah kegiatan ini, melihat pemandangan dari ketinggian. Dari ketinggian, biasanya, pemandangan biasa-biasa saja pun bisa indah. Di tebing panjat buatan, ini bisa sedikit buat bergaya. Boleh berfoto atau mengambil foto. Tapi di pertengahan dekade 90-an orang belum senarsis sekarang, hehehe.
Istirahat juga perlu, sebab setelah itu ada kegiatan yang kritis. Pergantian alat, dari alat untuk naik ke alat untuk turun dalam posisi bergelantungan adalah seperti pesawat yang akan lepas landas atau akan mendarat.
Neng harus menyelipkan sedemikian rupa tali yang dipanjatnya ke figure of 8—ini descender, alat untuk turun. Sesuai namanya, figure of 8 berbentuk seperti angka 8. Ia dibuat dari logam kromoli, yaitu logam campuran alumunium dengan baja. Alat ini sanggup menahan beban hingga 3.000 kg. Berapa beratmu, sobat?
Setelah tali terpasang di lingkaran besar figure, Neng harus memasukkan lingkaran kecil figure ke karabiner yang terhubung di harnessnya, kemudian menahan tali, melepaskan simpul prusik, dan barulah merosot turun.
Risiko salah dalam aktivitas melawan gravitasi, ya jatuh. Bisa langsung ke tanah. Bisa cukup beruntung hanya tergantung dalam posisi yang sangat tidak nyaman—tak bisa naik dan tak bisa turun dan bila tak cukup kuat membebaskan diri, harus dibantu seseorang.
Itu alasan kenapa saya ada di titik itu. Menjaga kemungkinan itu. Anak baru biasa gugup dan mudah panik. Kepanikan yang menjadi sumber celaka.
***
Neng mengatur napasnya. Ini prusikingnya yang kedua. Karena itu ia cukup tenang dan kami bisa bercakap-cakap sedikit. Ia senang ikut program ini dan sudah lama ingin mencoba memanjat di dinding. Ternyata kami bersekolah di SMP yang sama. Ia masuk SMPN 3 Kenanga tepat 6 tahun setelah saya lulus.
“Jadi Pa Ipit masih ada ya?”
“Ada Bang.”
Pak Pitrani guru olahraga kami, yang menciptakan tim basket perempuan paling hebat di dunia. Tim SMPN 3 Kenanga, yang dimotori antara lain oleh Enny Septiana—kawan yang saya ingin temui di Den Haag dalam perjalanan bermobil ke Mekkah suatu hari nanti—tidak punya lawan yang seumuran.
Ketika saya menjadi Ketua OSIS di sekolah itu, yang menjadi lawan Enny, Ernawati, Ellyati, Ellyrahmi (bukan kembar, tapi memang kakak adik), Annie Rahmawati, Novitasari, Tina Rosalina, Noor Fitriah, Gusti Masniah, … (kalian yang tak tersebut boleh isi sendiri titik-titik itu ya, maafkan saya) adalah tim kampus berbagai perguruan tinggi di Banjarmasin dan Banjarbaru. Mereka sudah taklukkan STIEI, Stienas, AMIK, Uvaya, dan tim fakultas-fakultas Fisip, Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian dari Universitas Lambung Mangkurat. Kalau tim-tim SMA saja, hehehe, nyaris tidak dihitung oleh Pa Ipit dan mereka.
Kami memang tidak selalu menang dan juara. Tapi disegani sudah pasti. Mungkin juga kawan-kawan itu sudah dapat tiket untuk masuk sekolah lanjutan yang ngetop.
Namun demikian, menurut catatan saya, trofi yang mereka menangkan pertama kali bukan sebagai tim basket, tapi sebagai tim voli—barangkali kejuaraan bola voli antar SMP-SMA untuk ulang tahun SMAN 2 Mulawarman.
Pa Ipit juga melatih tim basket cowok Braboetz—klub amatir yang ketika itu menyumbang banyak pemain untuk tim basket Kalimantan Selatan. Karena itu tim basket perempuan SMPN-3 juga berlatih bersama mereka.
Pa Ipit juga mengajar dan melatih judo, gulat, menulis diktat, serta tukang ngomel. Ada kawan kami Masripah, termasuk Ernawati, kawan sekelas saya yang main basket itu, yang berprestasi pula di judo hingga ke tim Pra PON Kalsel. Tetangga saya, Surya Saputra yang punya deretan prestasi internasional di gulat, adalah salah satu anak latihnya.
Bagaimana kami dengan para cowok? Hehehe, pada usia remaja awal itu, perempuan memang lebih dahulu mencapai kematangan. Kami baru berkembang pesat ketika berada di sekolah menengah atas. Dengan dasar-dasar yang sangat baik di SMPN 3, hampir semua kawan laki-laki hari itu menjadi seseorang di sekolah lanjutannya—kalau tak jadi atlet (minimal jadi pemain kunci di tim basket di kelasnya), jadi aktivis kegiatan ekstrakurikuler, dan beberapa yang hebat seperti Dheny Eko Ratmono terus menjadi bintang karena kecerdasannya.
“Ulun sempat belajar judo wan sidin…”
“Wow. Hebat.”
Jadi itu rupanya rahasia kelincahan dan kelenturan tubuhnya.
***
Setelah menyelipkan tali statik di lingkaran besar figure of 8, Neng segera memasukkan lingkaran kecil figure itu ke karabiner yang menghubungkannya dengan harness, alat yang menahan pinggang dan kakinya hingga bergantung dengna posisi duduk. Tangan kanannya kemudian menahan kencang bagian tali yang ada di bawah pinggang.
Dengan tangan kanan menahan tali kencang ke bawah, Neng menciptakan friksi besar pada figure dan tali. Friksi atau daya gesek itu cukup untuk menahan bobotnya sementara tangan kirinya melepaskan simpul prusik dari tali.
Melepas simpul prusik sangat gampang. Tinggal buka kuncinya dengan ibu jari, dan tarik ikalannya yang jadi kunci itu secara mendatar. Lepas sudah ikalannya.
Tapi hal yang gampang ini sering jadi masalah. Pemula sering menarik ikalan prusik tidak mendatar, tapi justru menariknya ke arah bawah. Padahal, bila diberi beban ke bawah sejajar tali, prusik justru semakin mengikat. Bukankah tadinya kita bergantung di simpul itu?
Itu yang biasanya membuat panik. Simpul tak lepas, dan tangan yang menahan tali untuk bertahan di ketinggian itu pun makin lemah.
Well, Neng melakukannya persis seperti yang diajarkan. Ia bahkan sudah mengalungkan ikalan kermantel kecil yang baru dilepasnya ke leher. Malah, sebelum turun, ia memundurkan badannya dari tali, figure, dan karabiner.
Menjauhkan badan itu prosedur standar. Saya senang ia melakukan itu. Berarti ia memperhatikan instruksi dan mendengarkan instrukturnya. Ini untuk menghindari, terutama, bila rambutmu panjang kawan, jangan sampai rambut itu masuk dan terjepit dalam komponen gerak segala peralatan untuk meluncur turun ini. Bila itu terjadi, sungguh berabe.
Dan Neng mengendurkan tali yang ditahannya dengan tangan kanan. Rem friksi dibuka, pelan ia merosot turun sambil tersenyum. Saya mengawasinya sampai ia menjejak tanah dengan selamat.
Ia melambai dengan tangan kiri dan tersenyum lagi. Saya melambai dan tersenyum juga.
***
Jalanan kampus mulai ramai oleh mahasiswa yang pulang kuliah. Sebagian dari mereka berhenti dan menonton kegiatan kami.
Dari ketinggian itu, saya melihat mereka, siswa-siswa SMKN-4 para peserta program pelatihan kepencintaalaman ini. Selama program ini berlangsung, saya tidak pernah mendengar ia dipanggil seperti yang dikatakannya saat tergantung di latihan prusiking itu. Gadis yang posturnya setinggi saya itu selalu disebut dengan nama depannya. Tidak ada seorang pun yang memanggilnya ‘Neng’ diantara 30-an kawan-kawannya sesama peserta.
Entah mengapa, di dalam hati saya memutuskan bahwa baik pada kesempatan-kesempatan tertentu di hari-hari yang akan datang, atau kapan pun, saya akan selalu ikut cara mamanya di rumah, memanggil gadis itu demikian: ‘Neng’.
Saya belum tahu kenapa saya memutuskan itu. ***
[1]Tali khusus untuk beraktivitas di ketinggian, sila lihat en.wikipedia.org/wiki/Kernmantle_rope
[2]Pita dari anyaman nilon untuk berbagai keperluan. Khusus untuk panjat tebing ada webbing tubular yang kuat. Selanjutnya bisa dilihat di en.wikipedia.org/wiki/Webbing
[3]Karabiner, carabiner, atau cincin kait. Digunakan untuk mengaitkan sesuatu kepada sesuatu yang lain. en.wikipedia.org/wiki/Carabiner