Month: Juni 2014

A Daddy,  Brother, Lover, Little Boy

Posted on Updated on

Saat Piala Dunia di Perancis tahun 1998 dan saya mendapatkan pekerjaan profesional yang pertama, Neng lulus UMPTN, Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Saya melihat nomor ujian dan namanya tertera di koran khusus yang diterbitkan panitia untuk pengumuman hasil ujian itu.

Hanya mereka yang lulus yang dicantumkan nomor ujiannya, berikut nama, dan kode jurusan yang menerimanya. Neng akan menjadi mahasiswa Jurusan Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat, tentu saja Angkatan 1998.

Menyenangkan, bukan. Seperti menunggu buah yang diperam lama, dan sebentar lagi masak.

Dengan dia menjadi mahasiswa, setidaknya ‘memperpendek jarak’ antara kami. Kalau sebelumnya antara mahasiswa dan siswa, kini hanya antara mahasiswa.  Jarak usia 6 tahun pada tingkatan pendidikan yang berbeda tentu sesuatu banget. Tapi jarak yang sama pada level pendidikan yang sama bisa tidak terlihat terlalu mencolok.

***

Saya ingat suatu hari di bulan Januari ia bertanya kepada saya, mana yang baik baginya, apakah kuliah di Unlam saja, atau meneruskan pendidikan khusus yang sudah dijalaninya selama ini.

Di SMKN 4, Neng adalah siswa jurusan Pariwisata. Keahliannya adalah Housekeeping.

Bila Anda memasuki kamar hotel, terutama kamar hotel berbintang, saat pertama kali tiba Anda akan melihat bagaimana bantal ditumpuk di ujung tempat tidur, selimut dihamparkan, meja diletakkan, atau handuk-handuk dilipat dan ditata di rak besi di kamar mandi, sampai seperti apa ujung tisu gulung dilipat, itulah pekerjaan orang Housekeeping.

“Kok bingung?” tanya saya.

“Gak bingung. Cuma mama mau begini, sementara ulun sendiri belum yakin mau apa,” katanya.

Mama mau begini itu, cerita Neng, adalah ia ke Bandung, kuliah di sekolah tinggi pariwisata di Bandung, dan seterusnya. Bandung sendiri adalah tanah air yang lain bagi Neng. Ini tempat asal ibunya dan keluarga mereka punya rumah di Cimahi.

Cimahi itu kota satelit Bandung di utaranya. Bisa naik angkot lewat Geger Kalong di Jalan Setiabudhi. Rumah itu ada di sebuah komplek yang sedikit naik ke perbukitan. Di Bandung dan Cimahi dia punya beberapa acil, ada om, sepupu dan ponakan, …

Pilihannya sendiri ia belum tau. Itulah yang ditanyakannya kepada saya.

Well…coba apa saranmu sobat?

***

Hari itu, di beranda Perpustakaan Daerah, saya menjadi seorang kakak dan ayah sekaligus.  I can be your daddy, your brother… [1]

Saya bilang, menurut pada orangtua dan mewujudkan harapan mereka itu pahalanya luar biasa, hidup berkah, dan seterusnya. Apalagi yang mereka inginkan baik-baik belaka. Mumpung orangtua lagi mampu nyekolahin tinggi kemana saja, itu kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang dua kali. Lagi pula ia tak asing Bandung. Bandung juga gak jauh-jauh amat dari Banjarmasin.

“Kan Neng masih bisa sering pulang. Mungkin aku juga bisa jalan ke sana sekali-sekali…”

Dan 4 tahun saja kan.

(Fakta: Bandung-Banjarmasin lebih kurang 1.500 km, 1.200-an diantaranya di atas Laut Jawa. Fakta lagi: betapa sibuknya mahasiswa, dan betapa banyaknya yang bisa terjadi dalam 4 tahun)

Walaupun saya juga menambahkan bahwa tidak ada salahnya juga kuliah di Banjarmasin-di Unlam, pilih jurusan yang dia juga suka, gabung ke KBU, dan seterusnya.

“And we can stick together,” kata saya. Saya juga seorang pacar. I am also your lover…[2]

“Yup,” angguknya dengan senyum ditahan.

“Bang Nov mau es krim?”

Saya juga bisa jadi anak kecil. And I am definetely your little boy.[3]

Kami berdua suka Conello, es krim keluaran Walls yang gampang didapat di mana saja di warung atau toko yang cukup besar. Meski begitu, karena uang saku pelajar dan mahasiswa yang terbatas, Conello adalah kemewahan kecil yang tak selalu bisa kami beli. Neng kadang menyisihkan uang bensinnya—ia diizinkan naik motor ke sekolah. Saya menyimpan sebagian pendapatan saya dari menerjemahkan berbagai teks Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.

Kami juga masih membicarakan hal mau kemana setelah lulus itu beberapa kali. Saya bilang saya mendukung apa pun keputusannya.

***

Jadi saya sudah tahu seandainya ia memilih tidak kuliah di Banjarmasin. Setidaknya ia tidak akan menghilang begitu saja seperti Day. Setidaknya hari itu komunikasinya lebih mudah.

Dan pagi itu, nama dan nomor ujiannya tertulis di situ. Saya menelepon untuk mengucapkan selamat, namun Neng sedang keluar.

“Ke rumah sepupunya di Gang 7,” kata mamanya, perempuan yang selalu ramah itu.  “Ada pesan, nak?”

Saya hanya bilang akan menelepon kembali. Saya tahu nomor telepon rumah sepupunya itu, dan juga biasa menelepon ke situ.  

***

Pekerjaan profesional pertama saya di ruang redaksi adalah penerjemah berita-berita Piala Dunia Perancis 1998 tersebut. Saya bekerja dengan para legenda jurnalis Kalimantan Selatan. Ada mendiang Om Pay yang kumisnya sangar itu, ada Bang Budi yang kumisnya juga sangar dan setahu saya sekarang di Metro TV, ada Bang Atoey yang berewokan dan sekarang Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Selatan, ada Bang Rachman Agus yang kelimis, ada Bang Nafarin Fauzi yang gondrong ikal, juga dengan kumis sehingga mirip kiper Kolombia di Piala Dunia 1990 Rene Higuita, hehehe, ada ka Lili yang ketika itu wartawan perempuan paling cantik yang saya kenal, ada acting editor in chief Pak Misri Syarkawi, desainer halaman Umang Thaka,

Selama Piala Dunia, sekitar dua hari sebelum pembukaan hingga dua hari juga setelah selesai, saya menjadi bagian dari redaksi Kalimantan Post. Jam kerja saya lebih kurang mirip redaktur, antara pukul empat sore hingga pukul satu dinihari. Atasan langsung saya adalah Bang Nafarin Fauzi itu, redaktur olahraga.Dia yang membaca hasil kerja saya, mengkritik, dan memberi arahan bagaimana berita olahraga ala Kalimantan Post—koran yang sebelumnya dikenal sebagai bagian dari Media Grup milik Surya Paloh dengan nama Dinamika Berita.

Bang Parin, demikian panggilannya, mengajari dengan cara gampang: meniru. Di memberi beberapa contoh untuk dicontek. Seperti pelajaran lama di mata kuliah Writing: Imitative Writing, atau pelajaran Bahasa Indonesia di masa kelas 3 SD dengan mengisi rumpang.  Kau boleh meniru tulisan yang sudah jadi, yang sudah bagus, masukkan data yang kau miliki, begitu. Tapi kau tak boleh jadi peniru buta, meniru hanya untuk memudahkan mengawali. Setelah sepuluh tulisan meniru, kau sudah harus bisa membuat satu yang asli dari otak dan tanganmu sendiri.

Hari ketiga saya bekerja, atau sehari setelah pembukaan tanggal 10 Juni, Bang Parin sudah tak berkerut lagi keningnya membaca terjemahan saya. Berita pertandingan Grup B antara Kamerun vs Swiss yang berkesudahan imbang 1-1   lolos dalam waktu 90 detik.Gol Kamerun dibuat oleh bek Pierre Njanka di menit ke-78. Swiss yang tak mau kalah mencetak gol di menit ke-90 oleh Tony Polster.

“Itu satu hari terbaik saya sebagai pemain,” kenang Njanka dalam bahasa Indonesia logat Prancis. Saya mewawancarainya setelah 14 tahun pertandingan itu berlalu. Njanka sudah berkostum Putra Samarinda.  Ia sudah bermain di Indonesia sejak 2008 mulai dari Persija, juara Liga Indonesia bersama Arema, tenggelam bersama Atjeh United, muncul lagi bersama Mitra Kukar di Tenggarong, dan bergeser lagi 40 km ke Samarinda untuk gabung Persisam.   

***

Pekerjaan ini datang kepada saya mungkin bukan kebetulan. Bukan kebetulan lagi Rachman Agus, Atoey, Om Pay adalah senior kami semua di Kompas Borneo Unlam.

“Adakah yang bisa menerjemahkan,” kata Rachman Agus, sepekan sebelum kick off juara bertahan Brazil versus Skotlandia di Stade de France, St Dennis.

Untuk menyampaikan pertanyaan itu, Rachman Agus, redaktur pelaksana Kalimantan Post mampir khusus ke Sekretariat KBU di Unlam. Mungkin pertanyaan itu disampaikan kepada Guru Anang, mungkin juga kepada yang lain. Yang sampai kepada saya bukan pertanyaan, tapi semacam berita panggilan.

“Nov, kam dicari Rachman Agus…”

***

Di Kalimantan Post, seperti para pemain di Liga Inggris, saya dibayar per pekan. Masa itu, Rp250.000 cukup lumayan. Makan nasi pecel di Warung Rahmi di Jalan Cendana di Kayutangi itu hanya Rp1.200 seporsi (sekarang di Balikpapan bisa sampai Rp18.000 lebih). Ongkos naik angkot jauh dekat Rp… aduh berapa ya, mungkin sudah Rp400 (sebelumnya Rp75, lalu Rp100, lalu Rp150, lalu Rp200, lalu Rp250, lalu Rp300…). Bensin Rp600 per liter.  Biaya parkir, Rp50 (saya parkirnya sepeda—karena kemana-mana pake sepeda).

Honor terjemahan itu bahkan nyaris tak tersentuh. Ada kopi, teh,  dan penganan gratis di kantor. Setiap malam, ada saja yang nraktir makan malam. Sebagian besar karena menang taruhan bola.

Lalu seseorang menyadari bahwa saya punya akses kepada berita-berita pra pertandingan, preview. Berita preview itu berisi misalnya strategi apa yang akan digunakan pelatih, siapa yang akan diturunkan, siapa yang terkena akumulasi kartu kuning. Berita semacam itu bagus bagi yang ingin bertaruh. Tiba-tiba pula saya jadi punya semacam penghasilan tambahan tidak resmi. Tidak diminta, tapi datang begitu saja.

Saya bisa beli kopi dan mi instan agak banyak buat para penghuni Sekretariat. Saya bisa ngajak Neng nonton, dan banyak makan es krim.

***

Jar[4] mama pian[5] nelpon…”

“Yup, selamat yaaa.”

“Hehehe, makasih. Conello dong.”

“Beresss. Kan sore ke perpustakaan …”

Percayalah sobat, Perpustakaan adalah tempat paling romantis di dunia. ***    

 

 

1, 2, [3]Tentu saja bukan karena ini William “Billy” Sheehan dan Pat Torpey menuliskan liriknya, menjadikannya lagu untuk dinyanyikan Eric Martin dan gitar oleh Paul Gilbert, yang mereka kemas dalam album Lean Into It untuk Mr Big di tahun 1991. Kata Pat Torpey yang drummer itu, lelaki haruslah bisa menjadi ayah, kakak, kekasih, dan anak kecil sekaligus. Oleh Sheehan, lagu itu diberi judul Daddy, Brother, Lover, and A Little Boy.

 [4] ‘Jar’ (bahasa Banjar) = ‘bilang’, ‘kata’, said (Inggris), ‘jare’ (Jawa)

[5] ‘pian’ (bahasa Banjar) = sapaan untuk yang lebih tua, bentuk pendek dari ‘sampiyan’. Bahasa Banjar memang mendapat banyak pengaruh Bahasa Jawa—mengingat, konon,  sejarah para bangsawan dan pedagang pertama Banjar berasal dari Keling, Kediri.

Seperti Matahari Tak Pernah Tenggelam

Posted on Updated on

Akhirnya hujan berhenti menjelang pukul sepuluh pagi. Langit putih menyilaukan sementara tanah licin dengan pohon dan semak yang basah. Opik menutup pintu pondok dan kami menyandang ransel lagi.

Perlahan kebun-kebun berada di belakang kami, berganti padang alang-alang. Jalan setapak ini menjauhi tengah padang yang terang. Jalan itu menyisir sungai dan berada di bawah bayangan pohon-pohon.

Itulah asiknya desa dan alam bebas. Di kota, jalan yang ditanami pohonan di kiri kanannya atau di kiri saja, atau di kanan saja, atau di tengahnya saja. Di Paau, atau di hutan mana saja, jalan mengikuti alur tumbuh pepohonan.

Pohon-pohon tumbuh makin rapat dan sungai makin sempit. Pada pertigaan di dalam hutan kami belok ke kiri ke arah timur laut. Satu jam dari situ, kami bertemu lagi dengan Sungai Tuyup yang tinggal 3 meter lebarnya dan makin curam tepi-tepinya. Pukul setengah satu siang.

Kami beristirahat di tempat yang disebut Opik ‘pelawangan’. Itu memang istilah kami sendiri karena orang kampung tidak pernah bicara tentang tempat itu walau mereka biasa juga melaluinya. Di sini, jalan datar berakhir dan mulai menanjak setelah dua batu besar laksana gerbang. Pohon-pohon juga semakin besar dengan daun-daun yang menghalangi sinar matahari sampai ke tanah.

Beberapa waktu sebelum perjalanan ini, kami harus tersesat hingga dua hari sebelum mencapai pelawangan. Menurut peta tua peninggalan Belanda, bahwa di Paau-lah jarak paling pendek untuk mencapai Kintap di sisi timur Pegunungan Meratus. Lalu karena salah identifikasi bukit dan gunung sebelum masuk hutan sebelum pertigaan tadi, kami justru mengambil jalan ke kanan yang membawa kami ke kaki Gunung Kahung.

“Buhan kam mustinya belok kiri di situ,” kata Amir, pemburu yang bertemu kami dalam perjalanan turun.

Walau begitu, kami masih penasaran dengan peta. Begitu sampai kembali ke batas hutan saya memperhatikan kontur di peta dan menbandingkannya dengan bentang alam. Tahulah saya sebabnya. Bukit besar di depan saya, yang dijadikan patokan untuk menentukan posisi, bukanlah titik yang jadi awal menarik garis di peta.

Kesalahan kecil yang fatal. Opik bergurau,” Kapan-kapan kita pakai GPS saja, Gunakan Penduduk Sekitar.” GPS yang global positioning system yang asli yang menggunakan satelit, masa itu, masih cukup mahal harganya.

Tapi dari identifikasi penasaran tadi, saya jadi tahu arah pastinya. Begitu kami mencapai puncak nanti, dimana semua jalan berada di punggungan bukit dengan arah utara-selatan saja, arah selanjutnya adalah 130 derajat. Artinya kami harus membuat rute sendiri lebih kurang ke tenggara.

Memang bukan untuk mencapai puncak, tapi hanya untuk menyeberang ke sebelah dan mencapai jalan raya besar di selatan.

Kami berbagi sebatang besar cokelat, lalu masing-masing setangkup roti tawar yang diberi margarin dan taburan gula pasir yang saya siapkan pagi tadi, serta air minum dari sungai yang jernih. Cukup mengenyangkan. Saya mengisi ulang botol air. Dari sungai ini sampai ke dekat puncak nanti tak ada lagi air yang bisa diambil begitu saja.

Perjalanan naik dimulai.

***

Pegunungan Meratus membagi Kalimantan Selatan menjadi barat dan timur. Kami di Kompas Borneo Unlam (KBU) membaginya lagi menjadi Meratus Hulu dan Meratus Hilir. Bagian Hulu adalah mulai dari Hulu Sungai Selatan, dimana puncak-puncak utamanya di Hulu Sungai Tengah, dan terus hingga ke hutan-hutan di perbatasan Kabupaten Paser di Kalimantan Timur dimana ada Hutan Lindung Gunung Lumut dan Orang Miau, saudara-saudara Orang Bukit di Selatan.

Meratus Hilir sejak dahulu dieksploitasi. Belanda menemukan batubara di Pengaron, emas ada di hulu-hulu sungai Riam Kanan hingga ke Bukit-Bukit Pelaihari. Perkebunan besar dibuat di Danau Salak, juga di Tanah Laut. Kemudian dengan dibangunnya  bendungan Riam Kanan untuk pembangkit listrik, kawasan Gunung Aurbunak (1.092) di timurnya menjadi kawasan lindung.

Meski tingginya hanya seribu meter lebih sedikit, mendaki Aurbunak adalah ujian ketabahan tersendiri. Hutan lebat dengan semua makhluk dan satwa di dalamnya, cuaca yang basah dan hujan terus menerus, serta kontur yang curam, adalah menu di gunung itu. Berbeda pula dari di Hulu dimana ada kampung dan ladang di pegunungan, di Hilir hanya hutan dan hutan dan hujan. Kami bertemu Amir si pemburu pun lebih karena keberuntungan semata.

***

Gerimis turun begitu kami mulai perjalanan naik. Kami berhenti lagi untuk mengenakan jas hujan. Sekarang mendaki jadi seperti sauna. Kacamata saya berembun karena hembusan napas.

Jalan setapak terus menanjak dengan pagar pohon-pohon besar yang tinggi lurus. Beberapa pohon itu tumbang menghalang jalan. Kami melihat para pemburu membuat jalan melingkar pohon tumbang itu. Ada pula yang merintis memotong di atasnya.

Kami istirahat beberapa kali. Saya minum, Opik merokok. Kami juga bertukar beban. Tak ada yang dibicarakan di jalan, tak ada juga yang mengganggu benak selain melihat jalan dan hutan. Bagian hutan ini tidak memiliki keindahan yang khusus.  Kami juga sudah lama tidak khawatir tentang cuaca. Gunung ya begitu.

Pukul empat sore kami sampai di punggung gunung. Masih berhutan lebat, dan masih ada sungai. Ini anugerah hutan-hutan tropis Kalimantan. Juga ada bekas bivak pemburu. Kami mendirikan tenda di atas lantai kayu bulat bekas bivak itu. Biar sedikit lebih empuk, sebelumnya saya menyusun daun-daun di atas kayu-kayu bulat itu. Daun itu juga menambah hangat.

Tepat ketika kami akan memasak, hujan turun dengan lebatnya. Maka Opik menjadi koki di mulut tenda dengan payung jadi tambahan teras. Kami tidak punya kompor gas, tapi kompor parafin milik tentara sama efektifnya.

Hujan turun sepanjang malam. Makan malam hari ini tidak seindah makan malam hari sebelumnya, tapi setidaknya kami masih bisa makan malam. Makanan hangat yang menenangkan untuk badan yang lelah seharian berjalan.

“Jadi awalnya cuma menelepon?” tanya Opik. Kami berbaring sebagai dua sahabat di dalam tenda di tengah hutan di bawah hujan.

“Bukan cuma, Pik. Bukan cuma.”

***

Apa yang menggerakkan saya akhirnya menelpon Neng sore itu, seperti juga saat saya harus mengingat ikut cara ibunya memanggilnya dengan sebutan ‘Neng’, saya tak paham. Yang jelas, selama tiga minggu setelah prusiking itu saya menanggung penderitaan yang saya juga tidak mengerti karena apa: makan tak enak, tidur tak nyenyak, dan menulis banyak.

Percakapan kami yang singkat di dinding panjat itu terngiang-ngiang di telinga saya seperti rekaman yang diputar ulang terus menerus. Percakapan singkat yang sungguh biasa walaupun dilakukan di tempat yang tidak biasa.

Apakah karena teori gelombang dan aura itu?

Konon, setiap manusia memancarkan gelombangnya sendiri-sendiri. Setiap orang memiliki frekuensi masing-masing. Ketika frekuensi yang sama bertemu, itu menghidupkan sesuatu di benak dan otak. Aura menjadi bertambah terang dan frekuensinya bertambah kuat.

Itulah kenapa kita bisa merasa cocok dengan satu teman dan menjadi sahabat karib, atau menjadi teman sekedarnya saja bagi yang lain.

Jenis dan frekuensi gelombang yang dipancarkan seseorang ditentukan, dibuat, ditiadakan, dikeraskan, oleh lingkungan dan pendidikannya. Jenis dan frekuensi gelombang yang dipancarkan seseorang juga ditentukan orang lain yang kerap menghabiskan waktu bersamanya di sekitarnya.

“Itu pelajaran di FKIP?” tanya Opik, tergelak. Tentu saja bukan. Itu pelajaran dari Fakultas Kehidupan.

Darimana saya dapat nomor telepon Neng, itu sama sekali bukan masalah sobat. Anak-anak itu semua, sebagai peserta pelatihan kepencintaalaman, sudah mengisi formulir dan bio data dan menyerahkan pas foto.

Semuanya diarsipkan rapi oleh Adi,  Kepala Biro Kesekretariatan kami di KBU. Isian formulir itu bahkan sangat rinci seperti  meminta tinggi dan berat badan, golongan darah, alamat rumah, dan nomor telepon, sampai kode pos.

Bahkan juga ada pelepasan hak untuk menuntut seandainya terjadi apa pun dalam kegiatan ini yang menyebabkan meninggal dunia, cacat tetap maupun tidak. Formulir ini ditandatangani di atas meterai untuk memberinya kekuatan hukum.

Meski sebenarnya ini bukan arsip rahasia, tapi karena situasinya, Adi menyimpan berkas formulir itu di dalam file khusus yang disamarkan. Sampai beberapa lama, hanya ia dan saya yang tahu dimana arsip itu ada diantara semua file di lemari.

Oh, yang dimaksud telepon di sini adalah telepon fixed line, atau lebih tepatnya nomor telepon rumah. Layanan seluler sudah ada namun masih mahal dan handphone belum sampai ke orang kebanyakan. Ini masa booming bisnis wartel.

***

“Lalu bagaimana telepon yang pertama itu?” tanya Opik sambil bangkit. Ia duduk di depan pintu tenda, membukanya sedikit,  dan merokok.

Apa yang saya ingat dari telepon pertama itu sungguh sebuah telepon biasa di sore cerah yang juga biasa.  Di boks Nomor 4 di Wartel Kopma, tetangga sekretariat kami di Unlam di Banjarmasin.

Mungkin saya agak gugup pada mulanya. Mamanya yang mengangkat, beliau tidak bertanya apa-apa selain meminta saya menunggu sebentar dan memanggil anak gadisnya.

“Neng, telepon…”

***

Sisa hari setelah saya menelepon itu berlangsung seperti matahari tak pernah tenggelam, atau tenggelamlah dengan warna merah yang elegan. ***

 

… Julia Roberts

Posted on Updated on

Hari kami, saya dan Neng berkenalan adalah suatu Jumat sore di bulan April,  setahun sebelum reformasi, demikian catatan harian saya menyebutkan. Banjarmasin mulai memasuki masa riuh kampanye. Kami di Kompas Borneo Unlam yang bertahun-tahun didoktrin untuk tidak ikut campur dalam politik praktis sebagai organisasi,  sedang menjalankan program yang menyenangkan ini: kursus pencinta alam untuk siswa SMA.

Lebih menyenangkan lagi, peserta program ini, dan memang sejak awalnya dibuat khusus untuk mereka, adalah para siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4. Ini sekolah yang siswanya 99 persen perempuan. Satu persen siswa laki-laki yang ada pun sebagiannya berkelakuan dan bergaya seperti perempuan.

Dulu sebutannya SMKK, sekolah menengah keterampilan keluarga. Di sekolah ini diajarkan memasak, membuat pola pakaian dan menjahitnya, menata kamar dan tempat tidur, mencuci pakaian dan menyetrika. Ada guru khusus seperti Pak Ambiya yang punya salon sendiri yang mengajarkan tata rias wajah dan rambut. Ada jurusan tata boga, tata busana, pariwisata, dan kecantikan.

Karena itu SMKN 4 punya beauty salon, laundry, hingga hotel latihan yang dikelola profesional di sekolah. Di hotel itu pernah menginap ‘Si Mata Elang, jagoan bintang film laga Indonesia Advent Bangun yang kemudian main sinetron laga juga dan terakhir jadi pendeta.

Di sisi yang lain, Kelompok Mahasiswa Pencinta Alam dan Seni “Borneo” Universitas Lambung Mangkurat (atau biasa disebut Kompas saja, atau KBU saja) itu 90 persen anggotanya laki-laki. Sepuluh persen perempuan yang juga menjadi anggota, bernyali dan punya kekuatan lelaki. Meski tetap cantik, mereka umumnya bergaya (memilih mode pakaian, terutama) seperti kami para anggota yang lelaki.

Di KBU diajarkan bagaimana bertahan hidup di alam bebas (jadi ada juga masak-memasak),  memahami peta dan menentukan arah, menyusun barang dan perlengkapan di dalam ransel, lalu mendaki gunung, memanjat tebing, menyusuri sungai dan menikmati arus deras, menembus kegelapan gua, berdebat dan berorganisasi, merencanakan perjalanan, dan, emm, memang tidak resmi ada di kurikulum dan tidak resmi diajarkan: juga merayu wanita.

Saya tak pernah lulus pelajaran yang disebut terakhir itu, meski lulus gemilang semua prasyaratnya. Bang Sapar, seorang senior, yang ketika itu pacarnya si Vivi yang cantik itu berkata: ”Kamu naik gunung, memanjat tebing, berani menggantungkan hidupmu pada seutas tali yang dipasang oleh orang lain, masa merayu binian tak bisa?

Hahaha. Saat itu ya begitulah.

Saya memang tak pernah lancar bicara dengan perempuan, tapi bisa memenangkan hati mereka dengan kata-kata yang dituliskan.

Karena kebanyakan bergaul dengan buku yang diam dan perpustakaan yang hening, keterampilan berbicara saya terlambat datang.

Saya baru menyadarinya setelah beberapa lama–karena buku tak perlu dirayu, saya tak mengharuskan diri lancar bicara. Buku akan ikut saya dengan sukarela asal saya bisa membayar, atau memenuhi prosedur peminjaman dengan benar. Bahkan, bila cukup berani, Anda bisa menculik sebuah buku tanpa ketahuan dari perpustakaan dan tidak pernah mengembalikannya selama-lamanya.

***

Bagaimana SMKN 4 yang serba feminim itu tiba-tiba ingin merasakan anak-anaknya dihajar matahari dan disayat dingin angin tebing mulanya tak dipahami. Tapi lomba Wiyata Mandala membuat semuanya jelas.

Mungkin lomba ini masih berlangsung sampai hari ini. Lomba sekolah terbaik dengan kriteria banyak sekali. Sekolah saya dulu, SMAN 7 Banjarmasin, mendapat penghargaan Wiyata Mandala ini beberapa kali. 

“Kami ingin memberi anak-anak pengalaman yang lain dari yang lain yang bisa dialami dari sekolah yang mengajarkan hal-hal khusus seperti sekolah kami,” kata Pak Iwan, guru penghubung dalam program ini.

Pak Iwan berperawakan kecil, dengan cara melirik seperti penari bali dan gestur yang lentik.

Lalu kenapa KBU yang dipilih ternyata agak sedikit nepotisme. Ternyata ada guru di SMKN 4 yang senior kami di KBU—guru perempuan—yang baru kami sadari setelah mengecek lagi buku tebal daftar anggota itu. Beliau itulah yang merekomendasikan kegiatan kepencintaalaman berdasar keaktivannya di KBU di tahun 80-an.

Sebab lain, karena KBU itu dekat. Antara sekretariat kami di kampus Unlam di Kayutangi dengan SMKN-4 itu hanya lebih kurang 500 meter jaraknya, 150 meter dari sekretariat ke gerbang kampus ke Jalan Brigjen Haji Hasan Basry, lalu ke utara 250 meter, dan menyeberang jalan itu 50 meter untuk sampai di halaman dalam sekolah.

Sebab yang lain lagi, karena dinding panjat dan berbagai fasilitas lain yang kami punya,  dan juga faktor Guru Anang.

Anang yang jangkung mahasiswa Fakultas Teknik. Asalnya dari Birayang, keturunan ‘bubuhan’ Banjar Bukit di Datar Alai,  dataran yang berada di ketinggian 1.000-1.200 meter dari permukaan laut di Pegunungan Meratus,  yang wanitanya bermata agak sipit, berkulit kuning langsat, langsing,  namun sigap dengan pekerjaan di ladang dan di rumah.  Sebab ini,  Anang juga disebut Anang Alai, seorang Wana bernomor 287 yang senioritasnya setara hingga dua angkatan di atasnya, para Bhumi di tahun 1990.

Anang bertetangga tempat kost dengan Pak Iwan rupanya.  Anang Alai yang juga bermata sipit adalah Guru Anang, yang menjadi petualang dan pencinta alam secara alami karena alam dan lingkungannya. Karena itulah, kami memanggilnya dengan takzim, Guru Anang.

***

Mulanya ketika Guru Anang pertama kali menyampaikan permintaan SMKN 4 akan semacam kursus kepencintaalaman itu, ia sampai meminta Dewan Pengurus (DP) untuk agak merahasiakannya sampai semuanya siap.

Permintaan itu secara teknis tidak ada kesulitannya untuk diwujudkan. Menurut Guru Anang, yang sulit dan tidak bisa diduga adalah dampaknya.

Kalian tahu bukan, bagaimana dampak dari laki-laki dan perempuan yang berada dalam kegiatan yang sama dalam waktu yang cukup lama?

Ya, itu bisa mengubah dan mengguncangkan dunia. Syukur kalau menjadi lebih baik. Bila menjadi lebih buruk?

KBU yang penuh lelaki lajang yang tengah menggelora, diminta mengurusi perempuan-perempuan muda menjelang dewasa yang baru mekar melihat dunia…amboi…

Karena itu DP merasa bertanggungjawab untuk melindungi anggota-anggotanya dari pengaruh (yang mungkin buruk)  yang mungkin muncul  karena sekretariat diserbu  makhluk-makhluk dari Venus itu.

Permintaan SMKN-4 diterima. Namun program itu dikemas resmi sekali sehingga anggota kami yang paling liar (juga siswa sekolah yang paling nakal) sekali pun terpaksa tunduk dalam aturan.

***

Rapat DP menunjuk saya menjadi Kepala Sekolah dari program pelatihan tersebut. Guru Anang menjadi penasihatnya.

Alasan resmi penunjukan saya karena saya mahasiswa fakultas keguruan, karena itu mengerti bagaimana menyusun kurikulum, tahu kemana dan apa tujuan kursus ini (komunikasi dengan Pak Iwan dan arahan Guru Anang), bisa menerjemahkannya dalam kegiatan yang bisa diukur keberhasilannya,  dan memahami perkembangan peserta didik—khususnya anak-anak seusia siswa SMKN-4 itu.

Bagus sekali bukan. Alasan itu sesungguhnya bisa dipenuhi siapa saja mahasiswa FKIP setelah kuliah 7 semester. 

“Tapi tidak semua mahasiswa FKIP anggota KBU,” kata Rudy Firmansyah, ketua umum kami saat itu. Bang Rudy meninggal tahun ini karena sakit, semoga Allah melapangkan dan menerangkan kuburnya.

Maka saya menyusun program untuk 12 minggu, saya menunjuk instruktur—teman-teman yang terbaik di bidangnya masing-masing, seperti Odot di panjat tebing, Awi dan Sapar di survival, Guru Anang sendiri di navigasi darat, Oegoer yang pemain sepakbola itu di kebugaran fisik, Amang Efeet mengajar manajemen perjalanan…

Kawan-kawan itu boleh memilih asistennya masing-masing. Odot meminta bantuan Amat, yang ketika itu anggota baru dengan bakat memanjat luar biasa. Oegoer dibantu RO dan Icam. Awi dan Sapar itu duet survivor yang saya kenal sejak pertama di KBU tahun 1992.

Saya melihat dan mengawasi bagaimana jalannya pelajaran, dan kemudian mengevaluasinya, melapor kepada Ketua Umum dan Pak Iwan si guru penghubung.

Kepala sekolah,   tentu saja,  tidak mengajar.  Ia manajer. Tidak berhadapan langsung dengan siswa kecuali saat upacara bendera.  Kecuali juga dalam keadaan terpaksa ketika tidak ada lagi guru pengganti yang bisa disuruh.

Saya bak jenderal yang mengawasi pertempuran dari kejauhan dan menerima laporan dari komandan lapangan.

Itulah yang saya lakukan. Setelah sambutan sebentar, yang adalah perkenalan singkat dan ucapan selamat datang di lingkungan dan tradisi KBU, saya hampir tak bersentuhan lagi secara langsung dengan anak-anak itu.

Kepala Sekolah harus punya wibawa, bukan.

***

“Jadi rahasia tentang Neng ini karena ikam kepala sekolahnya?” tanya Opik, setengah bertanya setengah tertawa.

Salah satunya iya. Salah lainnya, karena apa yang kami khawatirkan tentang dunia yang gonjang-ganjing karena serbuan para makhluk dari Venus itu memang terjadi meski dampaknya pada KBU sebagai organisasi dan pada setiap orang baik anggota maupun bukan bukan anggota,  berbeda-beda.

Berbagai gosip bersliweran. Seru. Sekretariat tambah ramai, tidak hanya oleh anggota kami sendiri, tapi juga oleh teman-teman lain, termasuk oleh orangtua, kakak, adik, dari para siswa peserta program itu. Semut mana yang tidak tertarik pada gula yang sedemikian banyak? 

Namun tidak ada yang menghubungkan saya secara pribadi dengan siapa pun dari siswa-siswa itu.

“Jadi bagaimana kam memulainya, Nov. Kenalan di prusiking, terus apa…?”

 ***

 Bunyi jangkrik menghilang. Burung hantu di pohon di luar itu pun diam. Hujan mulai turun.

Saya mendengar bunyi napas halus yang teratur di samping saya. Saya menoleh dan tersenyum. Di dalam remang tenda, Neng sering terlihat paling mirip dengan Julia Roberts. Hidungnya, matanya, alisnya, tentu saja senyumnya dengan bibir tipis dan lebar itu. Saya cium keningnya dan kembali memejamkan mata.

Julia Roberts, emmm …  ***

 

Neng Adalah …

Posted on Updated on

Hujan turun deras dini hari. Bunyi air yang terjun dari langit itu berderakan ramai menghantam atap seng yang rendah. Saya bersyukur kami memutuskan bermalam di pondok ini. Bagaimana pun, lebih nyaman berada di bawah atap yang kokoh, dinding yang rapat, dan lantai yang hangat daripada diguyur hujan di dalam tenda nilon yang tipis dan di atas tanah yang lembab.

Adalah Opik mengusulkan bermalam di pondok entah milik siapa di tengah padang di kaki Pegunungan Meratus Hilir ini. Sejak kami menyeberang dari Tiwingan, awan sudah berarak di atas danau.  Gunung-gunung biru di kejauhan sana juga berpayung awan.

Lalu hujan gerimis pukul tiga sore mengantar kami dari rumah Pak RT, tempat kami melapor numpang lewat dan mengisi buku tamu dengan alamat yang selalu sama: Sekretariat Kompas Borneo Unlam, Gedung UKM Kampus Universitas Lambung Mangkurat, Jalan Brigjen H Hassan Basry, Kayutangi, Banjarmasin.

“Abahnya masih di kebun, Pik…” kata perempuan itu kepada Opik. Dari beberapa kali kunjungan sebelumnya, kami lumayan dikenal di Paau, Karangan Haur, 90 menit plus 60 menit dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Catatan saya kabur tentang siapa nama Pak RT di Paau itu, begitu pula dengan nama istrinya, dan anaknya itu. Tapi saya ingat kami diberi sangu sebungkus besar kantong plastik kacang rebus dan sebungkus koran kacang goreng.

Paau dan Belangian, desa-desa sepanjang Danau Riam Kanan memang penghasil kacang tanah yang gurih. Sepanjang jalan hingga sungai, tak henti-hentinya kami mengunyah kacang rebus, dan, hehehe, menikmati bagaimana rasanya membuang kulit kacang sepanjang jalan.

“Itu pupuk, dari tanah kembali ke tanah, tak akan jadi sampah,” kata Opik.

Sebelum tiba di sungai, kami bertemu serombongan mahasiswa. Ada 6 lelaki dan seorang perempuan. Seorang mengenal Opik dengan baik dan kami semua bersalaman. Sekarang ada tujuh lelaki gondrong dan seorang perempuan berambut panjang, hehehe.

“Berdua aja, Pik?”

“Berdua aja,” kata Opik.

“Acara apa?”

Acara saya dan Opik jalan-jalan saja. Seminggu sebelum ini, tiba-tiba saja kita kangen hutan-hutan di selatan. Maka pukul sepuluh pagi hari Sabtu saya dan Opik sudah di dalam Damri ke Banjarbaru, makan siang di dermaga Tiwingan, dan sempat tertidur dalam perjalanan klotok ke Karangan Haur.   

“Kami pemantapan anggota baru,” kata si teman itu. Si perempuan itulah ternyata sang anggota baru, yang tersenyum dengan wajah lelah tapi bangga.  Mereka Mapala Oryza Sativa dari Fakultas Pertanian Universitas Achmad Yani di Banjarbaru. 

Pemantapan biasanya tahapan terakhir sebelum  calon anggota—atau ada juga yang menyebutnya anggota muda—dilantik menjadi anggota penuh organisasi kepencitaalaman.  Di KBU, setelah lulus pemantapan calon anggota mendapat nomor anggota yang melekat padanya seumur hidupnya—dan biasanya kami tuliskan dengan bangga di properti masing-masing. Dari suasana selama dan sepanjang pemantapan pula setiap angkatan mendapatkan namanya. Karena hutan-hutan selama pemantapannya, Opik seorang Wana. Sebab gunung-gunung yang kami lalui, saya menjadi seorang Adri. Saya anggota ke-302, Opik anggota ke 299.

Kami berbagi kacang rebus sebelum bersalaman dan berpisah. Mereka ke kampung untuk bermalam dan besok pulang pagi-pagi ke Banjarbaru. Kami meneruskan perjalanan ke timur, ke arah gunung-gunung gelap yang kini menyangga awan hitam.

***

Pemilik pondok ini pasti seseorang di kampung. Di dinding papan diselipkan sabit dan parang. Rantai gergaji mesin digantungkan pada paku di tiang. Alat penyemprot hama ada di sudut. Di dekatnya ada juga racun hamanya di dalam kotak yang dikunci. Ada rak dimana diatur pakaian anak-anak perempuan, ada pensil dan buku tulis. Ada lampu teplok dengan semprong.

Ada kitab suci di atas karung gabah. Saya membukanya pada halaman yang dilipat—tanda terakhir sang pembaca mengakhiri resitalnya. Ujung halaman yang dilipat itu menunjuk ke angka nomor surah dan ayat. Kebiasaan urang Banjar, ujung halaman itu menandai tempat memulai membaca pada kesempatan berikutnya.

Si pembaca di pondok itu, mungkin pada Rabu malam atau Kamis pagi,  berhenti tepat saat akan memulai surah kesebelas.

Dua hari yang lalu, di mushaf kecil yang ada di bagian paling atas carrier, saya juga membuat lipatan yang sama persis seperti tanda yang dibuat si pembaca di pondok ini.

Seperti semua peralatan dan gadget kita hari ini, bila semua terhubung, maka sinkronisasi itu keniscayaan. Seperti dropbox, seperti …

Di antara berkarung-karung gabah itu, ada  sedikit yang sudah ditumbuk menjadi beras merah. Ada cabai dan sayur di pekarangan. Ada bonus pepaya yang sudah masak.

***

Pukul setengah delapan, makan malam disajikan dengan piring-piring porselen yang punya pondok. Ada air putih hangat. Nasi merah yang berkepul uapnya. Opik menggoreng ikan asin yang baunya menyebar.  Meski hanya berdua dalam radius beberapa kilometer itu, saya yakin, tak hanya saya yang meneteskan air liur, hehehe.

Saya  membuat sayur bening dari daun katuk. Ada rebusan daun gumbili dan sambal. Ada pepaya yang dipotong memanjang.  Opik juga masih merebus air lagi untuk kopi.

Ikan asin dan kopi dan rokok Opik kami beli di tokoserbaada di terminal di Simpang Empat Banjarbaru. Yang lain dari dalam pondok ini dan pekarangannya.

Tuhan bersama orang-orang yang bersyukur. Saya merasa seperti Laura Ingalls di pondok para juru ukur Di Pantai Danau Perak. Kenyang, tenang, senang. Di tahun 1879, Pa akan mengambil biolanya dan memainkan beberapa lagu, dan merokok pipa setelah makan malam yang nyaman dan Ma melanjutkan rajutannya, sementara Laura menari dengan Mary sebelum diantar tidur ole Pa.

Di tahun 1997, di ujung Paau yang tak lebih terpencil dari De Smet, malam itu  ada musik dari Radio Republik Indonesia dari radio transistor yang dibawa Opik.

Usai warta berita pukul sembilan Opik mematikan radionya. “Ceritalah, kenapa kau merahasiakan Neng dari kita semua di KBU,” kata Opik.

Saya menarik napas, tersenyum, dan menyeruput kopi. Opik mengisap rokoknya. Menunggu … ***

Neng

Posted on

Di ketinggian 12 meter dari tanah, kami berkenalan. Dia bergelantungan, dan saya tengah duduk di satu palang sambil memeluk besi siku 3 mm yang menegakkan menara itu.

“Di rumah, oleh mama ulun dikiau ‘Neng’,” katanya seraya menjauhkan dadanya dari kernmantel[1] 10 mm static yang dipanjatnya.

Saya ingat, kami tidak bersalaman. Ia sedang sibuk dengan segala peralatan yang melekat di badannya. Jarak kami juga terpisah sekitar satu meter lebih. Saya pun terikat pada palang yang lebih tinggi dengan webbing[2].

Ulun, dalam Bahasa Banjar,  adalah sebutan untuk diri sendiri bila berbicara dengan yang dianggap lebih tua, lebih senior, atau pada suasana yang lain dan level komunikasi yang lain, untuk menunjukkan sayang dan penghormatan kepada lawan bicara—meskipun si lawan bicara tidak lebih tua atau tidak lebih terhormat.

‘Dikiau’ means ‘called’, atau ‘dipanggil’, ‘disebut’  dalam Bahasa Indonesia.

***

Sebelumnya  dia dengan lincah memanjat tali statis ini hingga bertemu saya di ketinggian itu. Begitu sampai gilirannya, ia terlihat tidak ragu sedikit pun. Memasang ikalan kermantel, membuat simpul prusik, mengaitkannya kepada karabiner[3] yang terpasang di harnessnya, dan mulai memanjat naik.

Dalam 4 menit ia mencapai tempat saya duduk, yang sejajar dengan simpul pada kermantel itu. Ini batas yang harus dipanjatnya. Dari sini ia harus turun kembali.

“Halo,…” sapa saya.

“Halo bang,” katanya sambil mengatur napas.

“Istirahatlah sebentar,” kata saya. “Silakan liat pemandangan dulu.”

Di tebing alam, itu salah satu hadiah  kegiatan ini, melihat pemandangan dari ketinggian.  Dari ketinggian,  biasanya, pemandangan biasa-biasa saja pun bisa indah. Di tebing panjat buatan, ini bisa sedikit buat bergaya. Boleh berfoto atau mengambil foto. Tapi di pertengahan dekade 90-an orang belum senarsis sekarang, hehehe.

Istirahat juga perlu, sebab setelah itu ada kegiatan yang kritis. Pergantian alat, dari alat untuk naik ke alat untuk turun dalam posisi bergelantungan adalah seperti pesawat yang akan lepas landas atau akan mendarat.

Neng harus menyelipkan  sedemikian rupa tali yang dipanjatnya  ke figure of 8—ini descender, alat untuk turun. Sesuai namanya, figure of 8 berbentuk seperti angka 8. Ia dibuat dari logam kromoli, yaitu logam campuran  alumunium dengan baja. Alat ini sanggup menahan beban hingga 3.000 kg. Berapa beratmu, sobat?

Setelah tali terpasang di lingkaran besar figure, Neng harus memasukkan lingkaran kecil figure ke karabiner yang terhubung di harnessnya, kemudian menahan tali, melepaskan simpul prusik, dan barulah merosot turun.

Risiko salah dalam aktivitas melawan gravitasi, ya jatuh. Bisa langsung ke tanah. Bisa cukup beruntung  hanya tergantung dalam posisi yang sangat tidak nyaman—tak bisa naik dan tak bisa turun dan bila tak cukup kuat membebaskan diri, harus dibantu seseorang.

Itu alasan kenapa saya ada di titik itu. Menjaga kemungkinan itu. Anak baru biasa gugup dan mudah panik. Kepanikan yang menjadi sumber celaka.

***

Neng mengatur napasnya. Ini prusikingnya yang kedua. Karena itu ia cukup tenang dan kami bisa bercakap-cakap sedikit. Ia senang ikut program ini dan sudah lama ingin mencoba memanjat di dinding.  Ternyata kami bersekolah di SMP yang sama. Ia masuk SMPN 3 Kenanga tepat 6 tahun setelah saya lulus.

“Jadi Pa Ipit masih ada ya?”

“Ada Bang.”

Pak Pitrani guru olahraga kami, yang menciptakan tim basket perempuan paling hebat di dunia. Tim SMPN 3 Kenanga, yang dimotori antara lain oleh Enny Septiana—kawan yang saya ingin temui di Den Haag dalam perjalanan bermobil ke Mekkah suatu hari nanti—tidak punya lawan yang seumuran. 

Ketika saya menjadi Ketua OSIS di sekolah itu, yang menjadi lawan Enny, Ernawati, Ellyati, Ellyrahmi (bukan kembar, tapi memang kakak adik), Annie Rahmawati, Novitasari,  Tina Rosalina, Noor Fitriah, Gusti Masniah, … (kalian yang tak tersebut boleh isi sendiri titik-titik itu ya, maafkan saya) adalah tim kampus berbagai perguruan tinggi di Banjarmasin dan Banjarbaru.  Mereka sudah taklukkan STIEI, Stienas, AMIK, Uvaya, dan tim fakultas-fakultas Fisip, Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian dari Universitas Lambung Mangkurat. Kalau tim-tim SMA saja, hehehe, nyaris tidak dihitung oleh Pa Ipit dan mereka.

Kami memang tidak selalu menang dan juara. Tapi disegani sudah pasti. Mungkin juga kawan-kawan itu sudah dapat tiket untuk masuk sekolah lanjutan yang ngetop.

Namun demikian, menurut catatan saya, trofi yang mereka menangkan pertama kali bukan sebagai tim basket, tapi sebagai tim voli—barangkali kejuaraan bola voli antar SMP-SMA untuk ulang tahun SMAN 2 Mulawarman.

Pa Ipit juga melatih tim basket cowok Braboetz—klub amatir yang ketika itu menyumbang banyak pemain untuk tim basket Kalimantan Selatan. Karena itu tim basket perempuan SMPN-3 juga berlatih bersama mereka.

Pa Ipit juga mengajar dan melatih judo,  gulat,  menulis diktat, serta tukang ngomel.  Ada kawan kami Masripah, termasuk Ernawati, kawan sekelas saya yang main basket itu,  yang berprestasi pula di judo hingga ke tim Pra PON Kalsel. Tetangga saya, Surya Saputra yang punya  deretan prestasi internasional di gulat, adalah salah satu anak latihnya.

Bagaimana kami dengan para cowok? Hehehe, pada usia remaja awal itu, perempuan memang lebih dahulu mencapai kematangan. Kami baru berkembang pesat ketika berada di sekolah menengah atas. Dengan dasar-dasar yang sangat baik di SMPN 3, hampir semua kawan laki-laki hari itu menjadi seseorang di sekolah lanjutannya—kalau tak jadi atlet (minimal jadi pemain kunci di tim basket di kelasnya), jadi aktivis kegiatan ekstrakurikuler, dan beberapa yang hebat seperti Dheny Eko Ratmono terus menjadi bintang karena kecerdasannya.

Ulun sempat belajar judo wan sidin…”

“Wow. Hebat.”

Jadi itu rupanya rahasia kelincahan dan kelenturan tubuhnya.

***

Setelah menyelipkan tali statik di lingkaran besar figure of 8, Neng segera memasukkan lingkaran kecil figure itu ke karabiner yang menghubungkannya dengan harness, alat yang menahan pinggang dan kakinya hingga bergantung dengna posisi duduk.  Tangan kanannya kemudian menahan kencang bagian tali yang ada di bawah pinggang.

Dengan tangan kanan menahan tali kencang ke bawah, Neng menciptakan friksi besar pada figure dan tali. Friksi atau daya gesek itu cukup untuk menahan bobotnya sementara tangan kirinya melepaskan simpul prusik dari tali.

Melepas simpul prusik sangat gampang. Tinggal buka kuncinya dengan ibu jari, dan tarik ikalannya yang jadi kunci itu secara mendatar. Lepas sudah ikalannya.

Tapi hal yang gampang ini sering jadi masalah. Pemula sering menarik ikalan prusik tidak mendatar, tapi justru menariknya ke arah bawah. Padahal, bila diberi beban ke bawah sejajar tali, prusik justru semakin mengikat. Bukankah tadinya kita bergantung di simpul itu?

Itu yang biasanya membuat panik. Simpul tak lepas, dan tangan yang menahan tali untuk bertahan di ketinggian itu pun makin lemah.

Well, Neng melakukannya persis seperti yang diajarkan.  Ia  bahkan sudah mengalungkan ikalan kermantel kecil yang baru dilepasnya ke leher. Malah, sebelum turun, ia memundurkan badannya dari tali, figure,  dan karabiner.

Menjauhkan badan itu prosedur standar. Saya senang ia melakukan itu. Berarti ia memperhatikan instruksi dan mendengarkan instrukturnya.  Ini untuk menghindari, terutama, bila rambutmu panjang kawan, jangan sampai rambut itu masuk dan terjepit dalam komponen gerak segala peralatan untuk meluncur turun ini. Bila itu terjadi, sungguh berabe.

Dan Neng mengendurkan tali yang ditahannya dengan tangan kanan. Rem friksi dibuka, pelan ia merosot turun sambil tersenyum. Saya mengawasinya sampai ia menjejak tanah dengan selamat.

Ia melambai dengan tangan kiri dan tersenyum lagi. Saya melambai dan tersenyum juga.

***

Jalanan kampus mulai ramai oleh mahasiswa yang pulang kuliah. Sebagian dari mereka berhenti dan menonton kegiatan kami.

Dari ketinggian itu, saya melihat mereka, siswa-siswa SMKN-4 para peserta program pelatihan kepencintaalaman ini. Selama program ini berlangsung, saya tidak pernah mendengar ia dipanggil seperti yang dikatakannya saat tergantung di latihan prusiking itu.  Gadis yang posturnya setinggi saya itu selalu disebut dengan nama depannya. Tidak ada seorang pun yang memanggilnya ‘Neng’ diantara 30-an kawan-kawannya sesama peserta. 

Entah mengapa, di dalam hati saya memutuskan bahwa baik pada kesempatan-kesempatan tertentu di hari-hari yang akan datang, atau kapan pun, saya akan selalu ikut cara mamanya di rumah, memanggil gadis itu demikian: ‘Neng’.

Saya belum tahu kenapa saya memutuskan itu. ***

 

[1]Tali khusus untuk beraktivitas di ketinggian, sila lihat en.wikipedia.org/wiki/Kernmantle_rope

[2]Pita dari anyaman nilon untuk berbagai keperluan. Khusus untuk panjat tebing ada webbing tubular yang kuat. Selanjutnya bisa dilihat di en.wikipedia.org/wiki/Webbing

[3]Karabiner, carabiner, atau cincin kait. Digunakan untuk mengaitkan sesuatu kepada sesuatu yang lain. en.wikipedia.org/wiki/Carabiner