Sebuah Tatapan, Sebuah Senyuman

Posted on Updated on

Saya berutang terimakasih yang tak terhingga kepada seseorang yang menciptakan aturan ini: tiga bunyi bel-berbaris di depan kelas masing-masing, dua bunyi bel-semua harus tenang sehingga bunyi detik jam di ruang pengawas itu bisa terdengar, dan satu bunyi bel-semua boleh masuk kelas.

Itulah ritual sebelum masuk kelas di SMPN 3 Kenanga di Banjarmasin. Ketika saya praktik mengajar di sekolah itu tahun 1999, tak ada lagi bunyi bel dari pipa besi yang dipukul tersebut. Bunyi ‘teng, teng, teng’ sudah digantikan dengan bunyi elektronik ‘teeeeet’ dari bel listrik. 

Tak hanya bunyi teng yang sudah tak ada.

Sebagian guru-guru kami yang penuh beragam pengalaman hidup juga sudah meninggal, digantikan guru-guru muda lulusan sekolah tinggi ilmu pendidikan atau fakultas ilmu keguruan dan pendidikan.

Kelas-kelas kami di tahun 86-87-88-89 pun sudah tak ada. Kelas-kelas kayu dengan atap yang tinggi dan lantai yang cokelat khaki, dinding papan yang dikapur putih, tiang-tiang selasar yang bercat tebal berwarna hijau muda, semua sudah digantikan bangunan permanen dari batu, bata, dan semen. Atap sirap sudah lewat dan sekarang masanya genteng metal.

Begitu pula jendela-jendela besar yang panjangnya lebih tinggi dari kami saat itu. Bangunan baru memakai jendela yang lebih kecil dan menggantikan cahaya matahari yang bebas masuk di masa kami dengan cahaya lampu neon. 

Bangunan batu di atas rawa-rawa. Agak aneh melihatnya. Dan bukankah seluruh Banjarmasin itu rawa, tapi mengapa orang bersikeras membangun rumah batu yang mengusir air dari tempatnya dan memindahkannya ke jalan?

Jadilah Banjarmasin sekarang banjir di mana-mana. Air yang bingung mencari tempat lebih rendah akhirnya bersaing dengan mobil dan motor mengisi jalan-jalan kota.

“Wali Kota dan Wakil Wali Kota tak jelas apa maunya, apalagi kerjanya,” kata saya dalam hati—meski  Pak Wali Kota itu dulu saya kenal cukup andal mengurus klub sepakbola.

Pak Djumadri Masrun (yang piawai mengurus persatuan sepakbola seluruh indonesia kalimantan selatan) yang jadi wakil rakyat mungkin sudah capek mengingatkan.

Malang betul kalian, people of Banjarmasin, tinggal di kota yang sumpek jelek itu dengan pemerintah yang menyengsarakan yang kalian pilih sendiri. Enjoy.

Banjarmasin di masa saya SMP itu jauh lebih menyenangkan.  Setidaknya saya dan Day bisa berjalan-jalan di bawah naungan pohon angsana yang ditanam berderet di tepi jalan dan pergi pulang sekolah berjalan kaki dengan nyaman. 

“Banjarmasin tambah ruwet ya?” kata Day.

“Iya,” kata saya. “Lalu lintasnya, tata ruangnya. Bila flyover itu pun jadi, mungkin cuma menunda ruwet yang lebih dahsyat.”

“Itu meyakinkan saya untuk tinggal di Balikpapan saja,” senyumnya.

Amboi. Bunyi bel itu berdentang-dentang di kepala saya. Balikpapan, kubangun kujaga kubela.

***

Saya tak ingat benar hari apa hari itu. Tapi yang jelas bukan hari Senin, bukan hari Minggu, dan bukan pula hari Sabtu. Jumat juga rasanya tidak.

Bukan hari Minggu karena hari itu kita sekolah. Bukan Senin karena tak ada ingatan tentang upacara bendera. Sabtu kita mengenakan seragam pramuka dan hari itu seragamnya putih biru biasa.  Bukan Jumat sebab hari itu rasanya panjaaannnnggggg sekali.

Yang saya ingat pasti adalah waktunya, pukul 07.30. Setelah bel pertama yang 3 kali itu berdentang dan kami sudah berbaris di depan kelas masing-masing. Saya ada di sisi kiri dekat tiang selasar.

Beberapa anak yang terlambat masih berusaha mencapai kelasnya dengan berlari.

Dentang bunyi bel yang kedua, hening menyeruak.

Huppp…sosok mungil yang wangi ini menyelinap begitu saja di depan saya.

Hidung saya satu jengkal lurus dari ubun-ubun dengan rambut hitam mengilap itu. Saya menahan napas. Memiringkan badan ke kanan.

Dia tersenyum. “Numpang baris,” matanya yang bundar besar itu berkata.

Saya tersenyum juga. Membelalakkan mata, “Silakan…”

Satu bunyi bel ketiga. Keheningan 60 detik pecah kembali. Berganti dengan derakan banyak langkah kaki. Si Mungil itu meneruskan perjalanan ke kelasnya.

Kejadian yang sama terulang lagi beberapa hari kemudian.

Kali ini ia menyelipkan diri bukan di depan saya. Si Mungil itu berhenti di barisan di samping kanan. Ahaa, saya jadi lebih jelas melihat sosoknya. Perawakannya kurus. Tingginya lebih kurang 145 cm dengan rambut yang dipotong pendek. Ada lesung pipit di pipinya. Ada gingsul di giginya. Manis. Menunduk.

Dua bunya bel. Hening. Ia memandang ke kiri, ke arah saya.

Saya tersenyum. Ia tersenyum dengan lesung pipit dan gigi gingsulnya itu.

Tiba-tiba saja saya jadi panas dingin dengan jantung berdentam-dentam.

Satu bunyi bel.  Si Mungil itu meneruskan perjalanan ke kelasnya. Rok birunya bergoyang seiring langkahnya.

“Namanya Day …” kata Noviannor, menepuk punggung saya terus memandangi perjalanan gadis itu hingga sampai ke kelasnya, I A.

***

Saya 13 tahun ketika itu. Day beberapa bulan lebih muda. Saya sendiri termasuk yang paling muda di kelas. Rata-rata kawan sudah berusia 14 atau 15 tahun.

Kami berada di zaman peralihan di pengujung tahun 80-an. Adat istiadat, tata krama timur masih acuan pergaulan sehari-hari tapi nilai-nilai baru sudah mulai diikuti. Banyak orang tua mengambil jalan tengah. Pacaran bukan untuk siswa SMP dan orangtua baru mengizinkan anaknya ‘berpacaran’ setelah si anak berusia 17 tahun. Setelah lulus SMP,  atau sekalian nanti saat kuliah.

Bahkan pacaran itu sendiri masih dalam perdebatan. Boleh atau tidak. Bila boleh, ngapain saja. Sampai dimana batas-batasnya.

Perdebatan itu bukan urusan kami. Cinta menemukan jalannya sendiri. Saya dan Day bertatapan, lalu saling tersenyum, dan bersurat-suratan. Juga mendengarkan gemuruh detak jantung kami sendiri di dalam barisan yang hening itu.

***

Demikianlah. Saya menulis berlembar-lembar surat dan menerima berlembar-lembar balasannya dari Day. Di sobekan tengah buku tulis, kami berbicara tentang apa saja yang kami suka dan tidak suka. Tentang Iwan Fals dan Krakatau, tentang Gadis dan Hai, tentang buku-buku Balai Pustaka, tentang Lupus dan adiknya Lulu, tentang guru-guru kami  (Pak Agus yang pemarah dan Pak Mukri yang menuntut perhatian penuh…),  tentang saya yang ketua OSIS, tentang kawan-kawan kami, tentang Mila kawan sekelas Day dan tetangga saya di Beruntung Jaya yang dengan sukarela jadi tukang pos kami, yang ditaksir kawan sebangku saya Mail (yang suka mencontek, dan konon kini jadi anggota DPRD).

Tentang Mail juga (orang yang sama, yang suka mencontek dan konon jadi anggota DPRD) yang juga naksir Enny yang jago main basket—kawan sekelas Day yang lain. Bahwa Day dan Mail ternyata bersepupu, bahwa Mila dan Mail pernah jadian untuk beberapa minggu, bahwa …

Pada 14 Februari, saya juga menerima dua kartu valentin. Merah hati, dan merah muda di tahun berikutnya. Disampaikan di tengah barisan yang hening dengan gemuruh jantung kami dan napas-napas yang ditahan. Mmm, I love u, dear, always.

“Masih kamu simpan?” tanya Day. Bibirnya ditarik dan matanya berbinar-binar.

“Dulu sih masih, di laci meja belajar. Tapi ketika saya pindah ke Balikpapan, lalu rumah di renovasi, kamar saya dibongkar, saya tak tahu lagi kemana semuanya—kecuali buku-buku,” kata saya.

Ketika saya berkata tentang rumah direnovasi itu, saya sebetulnya juga ingin menambahkan ‘dan saya menikah’ –tapi tentu kita tidak mengatakan hal seperti itu dalam suasana seperti itu bukan?

Saya ingin juga menanyakan hal serupa kepada Day, tapi jelaslah hidupnya lebih berwarna dan saya yakin surat-surat itu sudah lebih dahulu tak ada jauh sebelum rumah saya direnovasi.

“Saya dulu menyimpannya di lemari pakaian, di antara lipatan baju sekolah,” tutur Day. Perasaan saya melambung.

Those letters were parts of me. Bukankah surat-surat itu bagian dari diri saya.

Kami sarapan pagi pada pukul sembilan, dengan mi goreng instan dan tiga telur mata sapi di tepi jalan raya yang sempit di perbukitan itu. Di sepanjang jalan banyak yang menawarkan vila untuk disewa. Saya sungguh tergoda.

Melihat Day makan sungguh menyenangkan. Saya rela melewatkan pemandangan indah lereng-lereng hijau kebun teh dan kabutnya yang misterius demi setiap suapan dan senyumannya.

Pelan, saya bacakan sebuah puisi Soe Hok Gie …

Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisimu, manisku

“Kita bisa bersama berziarah ke Mekkah,” kata Day. Dengan izin Allah, akan jadi perjalanan yang luar biasa. (Bacalah ‘Jalan ke Mekkah’, sobat).

“Dan kita mungkin tidak akan pernah punya anjing, walau kamu kepengin punya kan. Soal serdadu Amerika itu karena salah mereka sendiri menyerbu Vietnam. Biafra itu dimana? Kamp pengungsi Palestina? Fotoin bunga-bunga di Mandalawangi ya. Mmm, kita tak tahu siapa yang lebih dulu mati, cinta…”

Soal mati itu, dia tak bisa dibantah. Bersama saudara-saudaranya, Day menguburkan`ibu dan ayahnya, lalu dua kali memakamkan anak-anaknya yang meninggal karena sakit.

Saya membuat foto-foto bunga di Lembah Mandalawangi, tempat dimana abu jenazah Gie ditebarkan.

Di puncak Pangrango, sambil memandang awan yang menjauh dari Puncak Gede di seberang sana, kenangan di selasar di depan kelas itu berlintasan.

Seperti setelah dua kali bunyi bel, keheningan itu datang. Semilir angin. Daun dan ranting bergoyang di dalam barisan pohon-pohon. Saya mendengar detak jantung saya sendiri. Begitu hidup, begitu nyata.

Satu bunyi bel yang ketiga. Day bergegas menuju kelasnya. Kali ini saya tak hanya memandangi sosok mungil itu menjauh. Saya menjejeri langkahnya dan kami berjalan bersama.

Kami bertatapan dengan tangan bergandengan. Day tersenyum.

Kau dan aku, dear, semerbak karenanya. ***

Tinggalkan komentar