Jalan ke Mekkah

Posted on Updated on

 

Saya senang sudah mengunjungi Gie. Baik di tempat ia berpisah dengan nyawanya di lapangan pasir dan batu kelabu di ketinggian 3.776 meter di puncak Gunung Semeru atau di tempat bermainnya di Gede-Pangrango.

Yang lain yang saya ingin kunjungi juga Norman Edwin dan Didik Samsu di Aconcagua di perbatasan Cile-Argentina. Dan seperti yang lain-lain juga, saya ingin bersimpuh di tempat di mana Abu Bakar, Umar, dan Usman, juga Ali dan para sahabat lain menguburkan Muhammad dan mencium batu hitam yang mulia itu.

“Mari buat perjalanan ini asyik,” kata Day. Setiap orang bisa saja berziarah, katanya, tapi gak setiap orang melakukannya dengan naik mobil dari Barcelona.

Barcelona?

Tentu saja start dari Balikpapan. Sebelumnya, hmm, mau menyeberang ke Jawa atau justru ke Pontianak saja? Dari Pontianak ada kapal ke Singapura kan. Atau menyeberang ke Surabaya lewat Banjarmasin, kampung halaman kami tercinta—yang sekarang semrawut, tapi tetap tercinta.

 “Tak ada kapal ke Singapura dari Pontianak,” kabar Bujang Martihar,  kontraktor yang tangan dinginnya membuat jalan negara mulus dari penyeberangan di Piasak-Tayan hingga batas Kalimantan Barat-Kalimantan Tengah di Lamandau. Bang Bujang, sahabat baru tapi sudah bak teman puluhan tahun.

Jadi naik kapal dari Banjarmasin ke Surabaya. Dari Surabaya ke Malang. Ke Bromo-Semeru nanti saja. Tapi terus ke Jogja, Bandung, hingga Jakarta, lalu Merak-Bakauheni-Palembang sampai Riau. Mana lebih dekat menyeberang ke Batam lalu Singapura?

“Gak kepengen terus ke Medan dulu, ke Perbaungan—baru dari dari Belawan menyeberang ke Penang?” tawar Day. Dari Penang, lalu menyeberang Semenanjung Malaya—itu sudah separo Malaysia. 

“Kita kunjungi teman-teman, juga basis-basis perantau Banjar. Kalau di Jawa okelah bisa dilewati, tapi kalau di Tembilahan-Riau, Perbaungan-Medan-Deli Serdang, di Perak-Perlis, Pathani, kan sayang dilewatkan begitu saja…” kata Day lagi. Ai ai, dari mana ide itu?

Lalu melintasi Asia Tenggara (Thailand, Laos, Burma), Asia Selatan (Pakistan, India, Iran, Irak)…Saya bayangkan kami melewati jalan-jalan Delhi dengan Shah Rukh Khan menyanyikan Chaiya Chaiya, dan Kuch Kuch Hota Hay saat melintasi Agra.

Barulan masuk ke Eropa dari Balkan, sampai di Sarajevo-Parisnya Eropa Timur, ke utara dikit ke Romania, dan keluyuran di Eropa Tengah, Swiss, Berstechgaden, Austria, berfoto dengan latar belakang gunung karang Eiger, ngebut di autobahn di Jerman hingga Belanda (saya dan Day ingin mengunjungi Enny dan beberapa teman yang tinggal di Denhaag) turun ke selatan ke Belgia-Perancis  setelah sebelumnya curraheee, napak tilas pertempuran yang dijalani Easy Company, kompi dari resimen infanteri lintas udara Ke 506 Amerika Serikat dalam Perang Dunia II—tontonlah  Band of Brothers, kawan—diantaranya kota-kota Arnheim, Eindhoven, Carentan, Bastogne, sampai Alsace di perbatasan Italia-Prancis—baru masuk Spanyol buat mengenang 700 tahun kejayaan Islam di Andalusia—salat di Masjid Al Hambra—dan sebelumnya lagi tinggal di timur Spanyol, di Catalan, di Barcelona.

Yup, Balikpapan, Banjarmasin, Barcelona.

O Aku ingin berdansa denganmu, my dearest Day, di Plaza Catalonia dengan iringan lagu Canon in D dari Johann Pachelbel yang dimainkan dengan biola, lalu Nothing Else Matters yang dimainkan Metallica bersama San Franscisco Philharmonic Orchestra.

Lalu bersenang-senang riang dengan lagu Barcelona om Fariz RM—mungkin dari playlist di GT B2710 ini.

Quiere darme su direccion, senorita?  Ku ingin kau ajak serta malam ini.
Como se pronuncia oh juwita. Ingin kunyatakan cinta sepenuh rasa.
Hasta la vista mi amor. Penuh cinta…

Emm, kami tidak tidur di mobil malam itu.

(Boleh gak ya? Kan gak asyik tiba-tiba dirubung Satpol PP Pemkot Barcelona karena dianggap bikin ribut di tempat umum. Kartu pers saya yang lumayan sakti di Indonesia pasti tidak berlaku di sini, hahaha. Ah lagu Om Fariz itu lagu bagus dan tentang kota mereka, pasti semua yang dengar suka).

Mau berapa lama di Barcelona? Itu scam city, banyak copet dan penipu, kata Conor Woodman di National Geographic. Ya hati-hatilah. Masa gimbal gini takut—-jadi masih gimbal ni yaa. Casing tetap. Ok.

Dan ngapain lagi kalau bukan ke Nou Camp dan ikut jadi saksi El Barca menekuk Los Blancos si sombong Real Madrid.

Mungkinkah saat itu Messi masih ada di Barcelona? Mungkin masih. Jadi pemain senior dengan usia 34 tahun, dan entrenador Xavi Hernandez masih menurunkannya sejak dari menit pertama bila ia dalam kondisi fit.

Di mix zone saya pengen foto bareng dengan Jose Manuel Pinto yang jadi pelatih kiper, hehehe. Juga dengan Puyol, Carles Puyol jadi apa ya. Manajer Umum barangkali. Idola saya memang bukan striker dan pemain yang ganteng, tapi selalu kiper atau bek.

“Kalau saya mau foto bareng Fabregas,” kata Day. Waduh…saya jadi berpikir untuk menumbuhkan cambang dan kumis juga—lo, itu kan Pique. Eh, belum tentu FranCesc Fabregas masih main di Barcelona loh, my dearest Day.

“Cemburu yaaaa…”

Saya tak bisa mengelak. I do, I swear, by the moon and stars on the sky. Lebay, hahaha, tak perlu juga kau bersumpah Nov.  Kemana All 4 One sekarang ya?

Setelah beberapa hari baru lanjut ke selatan dan menyeberang Selat Gibraltar—Jabal Tharik, tiba di Maroko, menjelajahi Alzajair dan Gurun Libya di Afrika Utara ke arah timur hingga Mesir, belok kiri kembali ke Asia lewat Terusan Suez, aduh, lewat mana masuk Jazirah Arab yaa, apa menyeberang Laut Merah saja seperti Musa langsung ke Jeddah? Atau terus aja ke Yordania, mampir di Al Quds Yerussalem di Palestina baru ke Arab Saudi lewat utara dan terus ke selatan hingga Madinah, baru Mekkah.

Ah, keren sekali. Road to Mecca versi kami, dengan segala kenangan kepada Mohammad Assad si Leopold Weiss (wartawan petualang penulis) dan guru saya pak Abdul Muthim yang juga suka buku itu.

Oh, bukankah Assad juga dikuburkan di Spanyol. Wah, dimana yaa. Harus ketemu beliau sebelum menyeberang ke Afrika.

Keren banget. Berapa lama itu? Berbulan-bulan, pasti. Berapa mahal itu? Jelas lebih mahal daripada naik haji dengan pesawat terbang.

“Tapi tanpa biaya akomodasi yang besar,” cetus Day. Kami kan bisa tidur di mobil, dan di mobil  sudah disediakan semua keperluan tidur, ada velbed, ada tenda, ada sleeping bag.

“Kecuali di Barcelona, saya tak mau tidur di mobil di Barcelona,” katanya lagi. Saya juga tak mau, hehehe. Apalagi setelah dansa di Plaza Catalonia dan makan malam hidangan laut di Escriba di Poble Nou. 

Konsumsi? Baru diomongin tadi. Makanan tersedia sepanjang jalan. Kalau tak ada atau meragukan, kami masak sendiri. Ada rice cooker di mobil, ada kompor, ada gas butana. Ada cooler box untuk sayur dan ikan. Ada Indomie Soto Banjar Limau Kuit, ada corned, ada telur.

Setidaknya sampai ujung Malaysia tak ada yang perlu dikhawatirkan soal makanan.

Bukankah tadi kami juga mengunjungi teman-teman dan membuat teman-teman baru. Barangkali juga mampir di setiap Kedutaan Besar Republik Indonesia atau di Konsulat Jenderal Republik Indonesia untuk bertemu Yang Mulia Duta Besar dan Berkuasa Penuh … atau Pak Konsulat …

Naaa, untuk ini kayaknya kartu pers Antara saya bisa menunjukkan kesaktiannya, hehehe. Mereka semua kan teman-teman Kang Oe yang sekretarisnya judes tapi baik itu.

Hmm, bagaimana setelah selesai ziarah haji ini ya, apa masih mau pulang lewat darat lagi? Apa masih ada energinya ya?

Wah, kalau pulang dengan pesawat pasti disambut pakai lawang sekepeng (pintu gerbang, hahaha) dengan doa semoga menjadi haji mabrur oleh anak-anak.

Apa mau lanjut ke Afrika? Kan tinggal mutar balik tu kembali ke selatan, ke Teluk Aden, lalu menyeberang Laut Merah ke Ethiopia atau Somalia. Mungkin jalan terus sampai Afrika Selatan seperti Charley Boorman dan Ewan McGregor. Bajak laut Somalia mungkin sudah diberantas kali yaaa…

Atau cukup menjelajah jazirah ini, ke selatan dulu ke Yaman, baru ke Oman, dan finish di Dubai, Uni Emirat Arab—pengen liat menara itu, Burj Khalifa.

“Masa mau jalan terus. Pulang dong dear,” kata Day. Ya ya, pulang. Tapi dari mana?

“Ya dari Dubai itu bolehlah. Mobil dikirim pulang dengan kargo sampai Balikpapan lagi. Pulang pakai pesawat.  Aku ingin tidurrrr sampai Singapurrr …” kata Day lagi.

Mencurigakan. Kenapa tidurnya gak sampai Balikpapan, gitu? Mungkin ada hubungannya dengan mal yang sambung menyambung di Orchard Road itu kali ya? Hehehe. Baiklah, separo perjalanan ini dia juga menyetir bukan.

Hmm, iyalah. Itu Bunda Putri (hahaha) sudah bertitah. Walaupun masih rencana, tak boleh dibantah. Dan akuilah kalian, para lelaki, walaupun kadang terlihat terpaksa mematuhinya, memenuhi keinginan orang-orang yang kita cintai adalah salah satu alasan kenapa kita hidup.

I swear, by the moon and the stars on the sky. Demi bulan, demi bintang, demi langit malam. Nah, ini baru betul sumpahnya Nov. Hehehe.

Walaupun saya belum membuat sinkronisasi untuk perjalanan ini. Kapan harus mulai berangkat bila ingin tiba di Mekkah tepat waktu? Kapan El Classico Barcelona vs Real Madrid—jangan-jangan giliran Madrid yang jadi tuan rumah dan kami harus ke Santiago Berdebu, eh, Bernabeu itu, stadion terakhir yang saya ingin lihat di dunia ini, bahkan bagi saya lebih mulia lapangan rumput Stadion Parikesit, Stadion Persiba Balikpapan  yang menjelma jadi sawah bila hujan itu.

“Ya belum tentu juga kita ke Santiago Bernabeu. Jadwalnya kan sudah jelas biasanya, ” Day menenangkan. Ia tak habis pikir mengapa saya selalu emosi bila berbicara tentang Barcelona versus Real Madrid.

“Lagipula, bukankah lebih manis kemenangan yang direbut di kandang lawan, bukan,”  tambahnya. Oh may, I love you so much, babe.  

Untuk jadwal kayaknya Day aja deh yang atur. Saya mengurus mobil saja, sebuah Daihatsu Hiline yang sederhana tapi komplet. Apa dan bagaimana mobil ini, I ll tell you later, buddy. Saya ceritakan nanti, sobat.

Well, perjalanan, kawan, seperti air yang mengalir. Air yang deras mengalir biasanya  jernih meski ia sudah melalui banyak hal. Sampai ia menguap naik ke langit dan jatuh lagi ke bumi sebagai hujan.

Saya selalu ingin seperti itu. Deras mengalir sampai panas matahari menjemput.

Saat itu tiba, mungkin kita bisa ketemu lagi, Gie. Saya mungkin berpisah lagi dengan Day untuk sementara. Tapi my dear, setelah panas dan dingin dunia yang pun kelak kita jalani bersama, I love you, as always, hari ini di sini, atau nanti di kehidupan yang lain.  ***

8 respons untuk ‘Jalan ke Mekkah

    partnerinvain said:
    Desember 15, 2013 pukul 9:53 am

    Spanyol juga salah satu tujuanku selain Korsel kayaknya kita berseberangan aku pastikan aku pasti ke Bernabeu< Aku madridista pengen ketemu Ramosku 😀

      noviabdi25 responded:
      Desember 15, 2013 pukul 12:14 pm

      ya, saya punya feeling Ramos akan jadi salah satu pejabat di kepengurusan El Real, hehehe, oleee Barca

    sandi said:
    Desember 15, 2013 pukul 12:30 pm

    keren Nov…

      noviabdi25 responded:
      Desember 16, 2013 pukul 4:02 am

      tq bro, ente apalagi san, hehehe

    budi kertayasa said:
    Desember 15, 2013 pukul 3:55 pm

    kelihatanya aku ikut tapi khusus keliling indonesia saja “masih pakai mobil yang sama ” daihatsu hiline,,,,,kalau harus ke yerusalem ketemu sama orang orang israel,,, “nanti dulu ya”,,,, bukanya gak berani jihad,,, tapi kalau jihad berangkat sendiri ,,,

      noviabdi25 responded:
      Desember 16, 2013 pukul 4:08 am

      nanti kau ikut Indonesia 4X4 Expedition bang Fionk bud, tenang jaa

    dijah.. said:
    Desember 16, 2013 pukul 6:11 pm

    keren bang.. Akhirx punya cr bc tulisan pian 😉
    Btw lun pernah ntn (sambil lalu aj pang mkx kd tp ingat) expedisi, klo kd slh org indonesia, dlm rangka mentes kualitas n dayatahan oli mesin.. Melintas berbagai negara dg cuaca extrim berbeda, melintasi byk perbatasan, bhs budaya dll yg lun yakin pian sdh tau hehe lun jd ad sedikit gambaran betapa sulitx hehe :p

      noviabdi25 responded:
      Desember 19, 2013 pukul 2:11 pm

      Yup, heheh, trims Dj—ekspedisi itu namanya Pertamina Fastron Euro Asia, perjalanan selama 126 hari dari 17 Agustus 2011 sampai Desember 2011…selebritis yang ikut diantaranya si Bucek Depp. Mobil yang dipakai Toyota Fortuner rakitan Indonesia, mesin pakai pelumas Pertamina Fastron Gold, juga cairan pendingan radiator (radiator coolant) Pertamina. Tim menempun cuaca tropis Indonesia-Malaysia, pas ketemu banir di Thailand, padang pasir di Cina, pegunungan dingin bersalju di Kirgistan, dan masuk Eropa mulai dari Eropa Timur-Balkan hingga finish di Italia —- perjalanan itu memang untuk membuktikan ketangguhan produk-produk Indonesia…

Tinggalkan komentar