sebuah buku, sebuah pilihan
Hari itu, buku ini memilih saya. Sebuah buku yang sampul plastiknya sudah kuning dan sudah koyak. Banyak tangan sudah memegangnya.
Ia tergeletak di rak Karya Umum di Perpustakaan Wilayah (begitu sebutannya dulu). Rak Karya Umum adalah rak pertama setelah meja peminjaman buku, dari pintu depan kita masuk, ia ada di sayap kiri bangunan beratap tinggi dan dikelilingi jendela-jendela besar khas rumah banjar itu.
Buku itu tergeletak, tidak ikut berurut rapi dalam susunan buku. Tampaknya seseorang mengeluarkannya dari barisan, tapi tak jadi meminjamnya. Mungkin juga baru diletakkan lagi oleh petugas setelah baru dikembalikan namun belum sempat dimasukkan lagi ke urutannya.
Sebuah buku dengan cover warna merah, putih, dan hitam. Di bagian sampul di sepertiga bawah buku yang berwarna merah dilekatkan foto demonstrasi mahasiswa di tahun 1966 yang menggelora.
Sebuah buku setebal dan seukuran batu bata dari cetakan tahun 1989. Terbit pertama kali 1983. Pada sampul belakang ada foto hitam putih tampak samping seorang remaja Tionghoa berpipi tembem dan bercelana pendek, entah memandang apa dia di kejauhan.
Di bagian putih di tengah sampul depan, tertera judul buku ini. Judul itu ditulis miring 45 derajat ke arah kanan, dengan huruf courier dan seluruhnya huruf kecil, dalam tinta hitam yang tegas: catatan seorang demonstran
Di seperempat atas puncak buku, dengan dasar hitam dan tinta putih nama Soe Hok Gie ditulis dengan huruf Arial kurus setinggi 2 senti. Dia lah yang empunya catatan dan meninggal dalam usia 27 tahun di puncak gunung keramat itu.
Maka saya menemukan mau jadi apa saya nanti. Usia saya sudah 16 tahun, kelas 2A2.2 SMA Negeri 7, di Banjarmasin, di Kalimantan Selatan.
***
Jadi demonstran? Hehehe, bukan ternyata. Ah…, benarkah bukan?
“Saya tahu. Kamu kan memang sejak dulu kepengen jadi jurnalis,” kata Day.
Sejak dulu sejak kapan? Masa SMP itu saya hanya suka membaca dan menulis dan olahraga.
Cita-cita? Sudah lupa saya. Waktu SD pengen jadi insinyur pertanian karena suka desa, sawah, dan menanam sesuatu karena suka nonton acara Dari Desa ke Desa di TVRI (juga Lomba Kelompencapir yang pakai kentongan itu), dan sinetron Kisah Serumpun Bambu (kisah keluarga mas Barep yang sukses dan tinggal di desa)—dan Rumah Masa Depan (kisah yang berpusat pada keluarga Pak Sukri yang tinggal di Desa Cibereum). Juga pernah kepengen ikut transmigrasi dan jadi petani.
“Tapi saya benar kan. Kamu akhirnya jadi jurnalis juga,” Day bersikeras.
Orang-orang Taurus, atau Gemini (ah, my dear Day, kamu Taurus atau Gemini sih?)* memang keras kepala—dan saya bersyukur lahir di bawah Mars yang merah di bulan November. Konon, kami para scorpio dibekali DNA khusus untuk menghadapi cewek-cewek yang keras kepala seperti makhluk mungil di depan saya ini.
*(Day punya dua tanggal lahir resmi yang berbeda satu minggu. Di tanggal yang pertama ia adalah Taurus, tanggal yang kedua—yang selama ini saya tahu, memasukkan ia ke dalam Gemini).
“Kamu percaya zodiak?” kata Day dengan tatapan heran.
Saya percaya apa saja yang baik dan membuat saya bersemangat. Aslinya kan zodiak itu hasil riset yang luar biasa dari kelakuan manusia dan pergerakan benda-benda langit oleh para pengamat jenius di zaman Yunani Kuno. Seseorang kemudian menghubungkan kedua hal itu dan menemukan ternyata orang-orang scorpio selalu misterius dan kalau ia bisa jalan bareng dengan gemini atau taurus itu keajaiban karena kebersamaan mereka memerlukan pengorbanan yang luar biasa besar dari keduanya.
Masih ada halaman zodiak di majalah? Heheh, dulu sih saya juga pernah jadi peramal (penulis ngawur lebih tepat) bintang ini untuk majalah sekolah kami dan tabloid remaja yang bagus namun berumur singkat di Banjarmasin.
Tapi Day memang benar. Justru karena membaca dan menulis itulah saya jadi jurnalis dan tidak jadi petani profesional.
***
Lewat bukunya itu, Gie memberi semangat, model dan teladan, dan sebuah jalan hidup yang sangat menarik saya. Hanya mati muda yang saya tak mau, meski kawan-kawan di mapala pada berkoar mengutip puisinya, bahwa nasib terbaik adalah tak dilahirkan, dan kedua terbaik adalah mati muda.
(Saya juga tidak menggolongkan nasib saya jelek dalam usia yang sudah 10 tahun lebih tua dari Gie ini, yang meninggal di usia 27 tahun—Gie yang sosialis dan mungkin agnotis mungkin tidak pernah diberi tahu bahwa manusia boleh tahu semuanya, tapi tidak umurnya, rezekinya, dan jodohnya).
Tapi ya, Gie berada di zaman yang susah. Itu mungkin yang membuat mati muda menarik. Bersama dia ada Keith Moon, Janis Joplin, Jimi Hendrix, rombongan flower generation yang memang sungguh asyik, dan bukankah ribuan serdadu Amerika yang mati di Vietnam juga anak-anak muda?
Gie memberi contoh apa saja yang bisa ditulis oleh seorang anak, seorang remaja tanggung, remaja akhir, dan orang baru dewasa, serta orang dewasa. Gie menulis buku harian.
Saya mengikuti teladannya. Di buku harian yang buku tulis biasa (bukan buku tebal mahal wangi bersampul kulit, memang harusnya buku harian seperti apa?), saya mengikuti Gie memperhatikan semua yang tertangkap indra dan dirasakan hati dan terlintas berputar-putar di pikiran dan menuliskannya.
Meski demikian, di usia 16 tahun itu Catatan Seorang Demonstran hanyalah satu dari buku yang membuat saya terpesona. Beberapa tahun sebelumnya Marah Rusli sudah mempertemukan saya dengan Datuk Maringgih dan diharu biru Sitti Nurbaja dan gerombolan para pendekar sastra Balai Pustaka lainnya.
“Saya suka Di Bawah Lindungan Ka’bah,” kata Day. Oh, Hamka memang romantis—dan tragis. Entahlah, kenapa masa itu orang suka sekali menulis hal yang tragis dan penuh keputusasaan. Begitu pula bukunya yang lain, Tenggelamnya Kapal van Der Wijck—yang jadi favorit Fitriani Hayati dan Si Neng suka yang sudah jadi film.
“Hmm, siapa itu?”
“Siapa? Oh, Ipit…?”
“Yup.”
“Murid terpintar di kelas kami, I B, di sekolah kita dulu.”
Day mengangguk-angguk. Naluri perempuannya tampaknya tak percaya keterangan saya bahwa Hayati hanya ‘murid terpintar di kelas kami’. Oh please, no need to worry sweet, I am yours now.
Ehh, semua gadis itu yang tersebut itu, meski dari masa yang berbeda, Hayati, Day, Neng, seluruhnya alumni SMPN 3 loh.
Saya juga sudah terhanyut dalam petualangan Old Shatterhand di Winnetou Kepala Suku Apache atau Kara ben Nemsi yang diceritakan dengan sangat memikat oleh Karl May, berjilid-jilid cerita sejarah Tiongkok, pelajaran dan perkelahian kungfu tingkat tinggi, romantisme, dan khotbah Kho Ping Hoo, empat jilid buku Merdeka Tanahku Merdeka Negeri karangan Purnawan Tjondronegoro tentang bagaimana Overste Soeharto mengatur kembali pasukannya yang cerai berai dan memukul balik Belanda dalam 70 hari di kisah Serangan Oemoem 1 Maret 1949.
Juga Ringkasan Sejarah Islam yang ditulis A Latief Osman terbitan Bulang Bintang, buku tahun 1955 dari kumpulan buku milik Mama, dan buku yang ringkas ini, Mendaki Gunung, Sebuah Tantangan Petualangan, oleh Norman Edwin, seorang jurnalis petualang yang memuat alamat Kompas Borneo Unlam di Banjarmasin.
Dan, omitohud, siancai, siancai, hehehe, sorry bro, stensilan enny arrow juga. Kalian juga, bukan—dan anak-anak sekarang mendapatkannya dari internet dan situs-situs yang coba diblokir Kominfo.
Saya pun sudah melewati dua kali penataran Pendidikan Pengamalan dan Penghayatan Pancasila. Di penataran itu, sungguh, diajarkan, disebelah mana Anda lelaki harus berdiri bila bersama dengan perempuan. Di sisi mana Anda harus berada ketika menyeberang jalan yang ramai dengan seorang anak kecil, seorang tua, dan seorang wanita—tak peduli dia cantik atau tidak, gadis atau janda, kenal atau tidak.
Saya sudah jadi pelahap budaya pop yang disajikan majalah Hai, dan sudah berkenalan dengan Metallica.
Zaman saya adalah masa yang jauh lebih nyaman daripada masanya Gie. Saya sudah merasakan tetesan kue kemakmuran dari Jenderal Soeharto. Apa yang saya perlu perjuangkan ketika itu adalah masa depan saya sendiri. Nyaris tidak ada orang yang kelaparan di sekitar saya sehingga harus memakan kulit mangga yang didapatnya dari tempat sampah.
Saya bersekolah di sekolah terbaik di Kalimantan Selatan, mungkin saat itu juga terbaik di Kalimantan, dan salah satu sekolah terbaik di Indonesia.
Maka, yang paling mengesankan bagi saya dari buku Catatan Seorang Demonstran bukan kisah-kisah Gie dan kawan-kawannya turun ke jalan dan mengganyang para menteri plintat-plintut. Bukan itu.
Saya mengagumi bagaimana Gie, dalam usia yang sangat muda punya kesempatan membaca banyak buku bermutu dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris, buku-buku yang membuat ide-idenya berloncatan, pemikiran tentang bagaimana berbangsa dan bernegara mesti dijalankan.
Buku-buku yang membuat ia sangat kritis pada keadaan, pada kampusnya, pada dosen-dosen, pada kawan-kawannya, bahkan pada dirinya sendiri.
***
Saya jadi ingin membaca semua buku yang disebutkan Gie di dalam Catatannya itu—seperti saya ingin membaca semua buku yang dibaca Goenawan Mohammad yang menjadi inspirasi dari kebanyakan Catatan Pinggir, kolom yang ditulisnya untuk Tempo—majalah masa kecil saya.
(Sorry, mas Goen, bang Almin, kang Sunu, mas Baskoro, kak Leil, benar-benar majalah masa kecil saya—bacanya gantian dengan Bobo, Ananda, Si Kuncung, Kucica, Sahabat, Harmonis, Panji Masyarakat, dan banyak komik mulai dari Djaka Sembung-nya Djair sampai deretan Marvel dan DC Comics. Cuma saja saya bacanya di rumah Syamsul Muarif, orang Barabai yang kemudian jadi Menteri Kominfo—nanti cerita soal ini yaaaa).
Lalu, Gie juga suka menonton film, membuat puisi, naik gunung, dan aha…pacaran juga. (Walaupun kata Herman O Lantang, sahabatnya, Gie tidak punya pacar. Pengalaman cintanya tak sebanyak buku-buku yang dibacanya. Nah, ada teman perempuan mereka yang curhat soal cinta ke Gie, maka oleh Herman dan kawan-kawan lain dikatakan, itu sama saja curhat kepada dengkul).
Gie mengajari berpikir kritis dan berkata lugas. Waktu masih SMP dia sudah bisa berkata ‘guru bukan dewa dan murid bukan kerbau’ untuk menggambarkan guru pelajaran Bahasa Indonesia yang (barangkali lupa) apa saja karya bung Chairil Anwar sementara menyalahkan apa yang disebutkan Gie.
Gie pun terpaksa pindah sekolah karena sikap kritis ini. Perjuangan selalu ada harganya ya…
Pada saya, tak ada yang harus pindah sekolah. Malah saya jadi kuliah lebih lama karena keasyikan keluyuran—sejujurnya, karena bosan teori juga, tapi masih takut menghadapi dunia.
Tapi saya puas sepuas-puasnya. Saya cinta Indonesia tanpa indoktrinisasi, tetap cinta meski politikusnya benar-benar berlaku seperti tikus. Bila belum tahu seperti apa kelakuan tikus, teman, dengarlah petuah ayahnya Remy si tikus dalam film Ratatouille.
Seperti Gie, saya percaya kecintaan kepada bangsa dan negara hanya bisa tumbuh sehat bila kita mengenal obyeknya, yaitu bangsa dan negara itu, dan alam serta lingkungan tempat hidup manusia-manusianya.
***
Jadi benarlah entah kata siapa itu, buku adalah jendela dunia, meski Soekarno benci textbook thinking. Untuk bisa berkeliaran di alam bebas liar ini, sering kita harus membaca buku dulu, sobat. Soekarno bisa berkata begitu pastilah karena sudah melahap ribuan buku, seperti hanya musisi kugiran yang bisa berimprovisasi dengan nyaman.
Sekali-sekali, biarkanlah sebuah buku menemukan dan memilih Anda, lalu lihat dan rasakan apa yang terjadi kemudian.
(Pastikan majalah Playboy Anda tetap berada di rak tertinggi di dalam kamar, dan ada cukup kuat parental filter di saluran internet Anda). ***