Month: Desember 2013
Sebuah Tatapan, Sebuah Senyuman
Saya berutang terimakasih yang tak terhingga kepada seseorang yang menciptakan aturan ini: tiga bunyi bel-berbaris di depan kelas masing-masing, dua bunyi bel-semua harus tenang sehingga bunyi detik jam di ruang pengawas itu bisa terdengar, dan satu bunyi bel-semua boleh masuk kelas.
Itulah ritual sebelum masuk kelas di SMPN 3 Kenanga di Banjarmasin. Ketika saya praktik mengajar di sekolah itu tahun 1999, tak ada lagi bunyi bel dari pipa besi yang dipukul tersebut. Bunyi ‘teng, teng, teng’ sudah digantikan dengan bunyi elektronik ‘teeeeet’ dari bel listrik.
Tak hanya bunyi teng yang sudah tak ada.
Sebagian guru-guru kami yang penuh beragam pengalaman hidup juga sudah meninggal, digantikan guru-guru muda lulusan sekolah tinggi ilmu pendidikan atau fakultas ilmu keguruan dan pendidikan.
Kelas-kelas kami di tahun 86-87-88-89 pun sudah tak ada. Kelas-kelas kayu dengan atap yang tinggi dan lantai yang cokelat khaki, dinding papan yang dikapur putih, tiang-tiang selasar yang bercat tebal berwarna hijau muda, semua sudah digantikan bangunan permanen dari batu, bata, dan semen. Atap sirap sudah lewat dan sekarang masanya genteng metal.
Begitu pula jendela-jendela besar yang panjangnya lebih tinggi dari kami saat itu. Bangunan baru memakai jendela yang lebih kecil dan menggantikan cahaya matahari yang bebas masuk di masa kami dengan cahaya lampu neon.
Bangunan batu di atas rawa-rawa. Agak aneh melihatnya. Dan bukankah seluruh Banjarmasin itu rawa, tapi mengapa orang bersikeras membangun rumah batu yang mengusir air dari tempatnya dan memindahkannya ke jalan?
Jadilah Banjarmasin sekarang banjir di mana-mana. Air yang bingung mencari tempat lebih rendah akhirnya bersaing dengan mobil dan motor mengisi jalan-jalan kota.
“Wali Kota dan Wakil Wali Kota tak jelas apa maunya, apalagi kerjanya,” kata saya dalam hati—meski Pak Wali Kota itu dulu saya kenal cukup andal mengurus klub sepakbola.
Pak Djumadri Masrun (yang piawai mengurus persatuan sepakbola seluruh indonesia kalimantan selatan) yang jadi wakil rakyat mungkin sudah capek mengingatkan.
Malang betul kalian, people of Banjarmasin, tinggal di kota yang sumpek jelek itu dengan pemerintah yang menyengsarakan yang kalian pilih sendiri. Enjoy.
Banjarmasin di masa saya SMP itu jauh lebih menyenangkan. Setidaknya saya dan Day bisa berjalan-jalan di bawah naungan pohon angsana yang ditanam berderet di tepi jalan dan pergi pulang sekolah berjalan kaki dengan nyaman.
“Banjarmasin tambah ruwet ya?” kata Day.
“Iya,” kata saya. “Lalu lintasnya, tata ruangnya. Bila flyover itu pun jadi, mungkin cuma menunda ruwet yang lebih dahsyat.”
“Itu meyakinkan saya untuk tinggal di Balikpapan saja,” senyumnya.
Amboi. Bunyi bel itu berdentang-dentang di kepala saya. Balikpapan, kubangun kujaga kubela.
***
Saya tak ingat benar hari apa hari itu. Tapi yang jelas bukan hari Senin, bukan hari Minggu, dan bukan pula hari Sabtu. Jumat juga rasanya tidak.
Bukan hari Minggu karena hari itu kita sekolah. Bukan Senin karena tak ada ingatan tentang upacara bendera. Sabtu kita mengenakan seragam pramuka dan hari itu seragamnya putih biru biasa. Bukan Jumat sebab hari itu rasanya panjaaannnnggggg sekali.
Yang saya ingat pasti adalah waktunya, pukul 07.30. Setelah bel pertama yang 3 kali itu berdentang dan kami sudah berbaris di depan kelas masing-masing. Saya ada di sisi kiri dekat tiang selasar.
Beberapa anak yang terlambat masih berusaha mencapai kelasnya dengan berlari.
Dentang bunyi bel yang kedua, hening menyeruak.
Huppp…sosok mungil yang wangi ini menyelinap begitu saja di depan saya.
Hidung saya satu jengkal lurus dari ubun-ubun dengan rambut hitam mengilap itu. Saya menahan napas. Memiringkan badan ke kanan.
Dia tersenyum. “Numpang baris,” matanya yang bundar besar itu berkata.
Saya tersenyum juga. Membelalakkan mata, “Silakan…”
Satu bunyi bel ketiga. Keheningan 60 detik pecah kembali. Berganti dengan derakan banyak langkah kaki. Si Mungil itu meneruskan perjalanan ke kelasnya.
Kejadian yang sama terulang lagi beberapa hari kemudian.
Kali ini ia menyelipkan diri bukan di depan saya. Si Mungil itu berhenti di barisan di samping kanan. Ahaa, saya jadi lebih jelas melihat sosoknya. Perawakannya kurus. Tingginya lebih kurang 145 cm dengan rambut yang dipotong pendek. Ada lesung pipit di pipinya. Ada gingsul di giginya. Manis. Menunduk.
Dua bunya bel. Hening. Ia memandang ke kiri, ke arah saya.
Saya tersenyum. Ia tersenyum dengan lesung pipit dan gigi gingsulnya itu.
Tiba-tiba saja saya jadi panas dingin dengan jantung berdentam-dentam.
Satu bunyi bel. Si Mungil itu meneruskan perjalanan ke kelasnya. Rok birunya bergoyang seiring langkahnya.
“Namanya Day …” kata Noviannor, menepuk punggung saya terus memandangi perjalanan gadis itu hingga sampai ke kelasnya, I A.
***
Saya 13 tahun ketika itu. Day beberapa bulan lebih muda. Saya sendiri termasuk yang paling muda di kelas. Rata-rata kawan sudah berusia 14 atau 15 tahun.
Kami berada di zaman peralihan di pengujung tahun 80-an. Adat istiadat, tata krama timur masih acuan pergaulan sehari-hari tapi nilai-nilai baru sudah mulai diikuti. Banyak orang tua mengambil jalan tengah. Pacaran bukan untuk siswa SMP dan orangtua baru mengizinkan anaknya ‘berpacaran’ setelah si anak berusia 17 tahun. Setelah lulus SMP, atau sekalian nanti saat kuliah.
Bahkan pacaran itu sendiri masih dalam perdebatan. Boleh atau tidak. Bila boleh, ngapain saja. Sampai dimana batas-batasnya.
Perdebatan itu bukan urusan kami. Cinta menemukan jalannya sendiri. Saya dan Day bertatapan, lalu saling tersenyum, dan bersurat-suratan. Juga mendengarkan gemuruh detak jantung kami sendiri di dalam barisan yang hening itu.
***
Demikianlah. Saya menulis berlembar-lembar surat dan menerima berlembar-lembar balasannya dari Day. Di sobekan tengah buku tulis, kami berbicara tentang apa saja yang kami suka dan tidak suka. Tentang Iwan Fals dan Krakatau, tentang Gadis dan Hai, tentang buku-buku Balai Pustaka, tentang Lupus dan adiknya Lulu, tentang guru-guru kami (Pak Agus yang pemarah dan Pak Mukri yang menuntut perhatian penuh…), tentang saya yang ketua OSIS, tentang kawan-kawan kami, tentang Mila kawan sekelas Day dan tetangga saya di Beruntung Jaya yang dengan sukarela jadi tukang pos kami, yang ditaksir kawan sebangku saya Mail (yang suka mencontek, dan konon kini jadi anggota DPRD).
Tentang Mail juga (orang yang sama, yang suka mencontek dan konon jadi anggota DPRD) yang juga naksir Enny yang jago main basket—kawan sekelas Day yang lain. Bahwa Day dan Mail ternyata bersepupu, bahwa Mila dan Mail pernah jadian untuk beberapa minggu, bahwa …
Pada 14 Februari, saya juga menerima dua kartu valentin. Merah hati, dan merah muda di tahun berikutnya. Disampaikan di tengah barisan yang hening dengan gemuruh jantung kami dan napas-napas yang ditahan. Mmm, I love u, dear, always.
“Masih kamu simpan?” tanya Day. Bibirnya ditarik dan matanya berbinar-binar.
“Dulu sih masih, di laci meja belajar. Tapi ketika saya pindah ke Balikpapan, lalu rumah di renovasi, kamar saya dibongkar, saya tak tahu lagi kemana semuanya—kecuali buku-buku,” kata saya.
Ketika saya berkata tentang rumah direnovasi itu, saya sebetulnya juga ingin menambahkan ‘dan saya menikah’ –tapi tentu kita tidak mengatakan hal seperti itu dalam suasana seperti itu bukan?
Saya ingin juga menanyakan hal serupa kepada Day, tapi jelaslah hidupnya lebih berwarna dan saya yakin surat-surat itu sudah lebih dahulu tak ada jauh sebelum rumah saya direnovasi.
“Saya dulu menyimpannya di lemari pakaian, di antara lipatan baju sekolah,” tutur Day. Perasaan saya melambung.
Those letters were parts of me. Bukankah surat-surat itu bagian dari diri saya.
Kami sarapan pagi pada pukul sembilan, dengan mi goreng instan dan tiga telur mata sapi di tepi jalan raya yang sempit di perbukitan itu. Di sepanjang jalan banyak yang menawarkan vila untuk disewa. Saya sungguh tergoda.
Melihat Day makan sungguh menyenangkan. Saya rela melewatkan pemandangan indah lereng-lereng hijau kebun teh dan kabutnya yang misterius demi setiap suapan dan senyumannya.
Pelan, saya bacakan sebuah puisi Soe Hok Gie …
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisimu, manisku
…
“Kita bisa bersama berziarah ke Mekkah,” kata Day. Dengan izin Allah, akan jadi perjalanan yang luar biasa. (Bacalah ‘Jalan ke Mekkah’, sobat).
“Dan kita mungkin tidak akan pernah punya anjing, walau kamu kepengin punya kan. Soal serdadu Amerika itu karena salah mereka sendiri menyerbu Vietnam. Biafra itu dimana? Kamp pengungsi Palestina? Fotoin bunga-bunga di Mandalawangi ya. Mmm, kita tak tahu siapa yang lebih dulu mati, cinta…”
Soal mati itu, dia tak bisa dibantah. Bersama saudara-saudaranya, Day menguburkan`ibu dan ayahnya, lalu dua kali memakamkan anak-anaknya yang meninggal karena sakit.
Saya membuat foto-foto bunga di Lembah Mandalawangi, tempat dimana abu jenazah Gie ditebarkan.
Di puncak Pangrango, sambil memandang awan yang menjauh dari Puncak Gede di seberang sana, kenangan di selasar di depan kelas itu berlintasan.
Seperti setelah dua kali bunyi bel, keheningan itu datang. Semilir angin. Daun dan ranting bergoyang di dalam barisan pohon-pohon. Saya mendengar detak jantung saya sendiri. Begitu hidup, begitu nyata.
Satu bunyi bel yang ketiga. Day bergegas menuju kelasnya. Kali ini saya tak hanya memandangi sosok mungil itu menjauh. Saya menjejeri langkahnya dan kami berjalan bersama.
Kami bertatapan dengan tangan bergandengan. Day tersenyum.
Kau dan aku, dear, semerbak karenanya. ***
Jalan ke Mekkah
Saya senang sudah mengunjungi Gie. Baik di tempat ia berpisah dengan nyawanya di lapangan pasir dan batu kelabu di ketinggian 3.776 meter di puncak Gunung Semeru atau di tempat bermainnya di Gede-Pangrango.
Yang lain yang saya ingin kunjungi juga Norman Edwin dan Didik Samsu di Aconcagua di perbatasan Cile-Argentina. Dan seperti yang lain-lain juga, saya ingin bersimpuh di tempat di mana Abu Bakar, Umar, dan Usman, juga Ali dan para sahabat lain menguburkan Muhammad dan mencium batu hitam yang mulia itu.
“Mari buat perjalanan ini asyik,” kata Day. Setiap orang bisa saja berziarah, katanya, tapi gak setiap orang melakukannya dengan naik mobil dari Barcelona.
Barcelona?
Tentu saja start dari Balikpapan. Sebelumnya, hmm, mau menyeberang ke Jawa atau justru ke Pontianak saja? Dari Pontianak ada kapal ke Singapura kan. Atau menyeberang ke Surabaya lewat Banjarmasin, kampung halaman kami tercinta—yang sekarang semrawut, tapi tetap tercinta.
“Tak ada kapal ke Singapura dari Pontianak,” kabar Bujang Martihar, kontraktor yang tangan dinginnya membuat jalan negara mulus dari penyeberangan di Piasak-Tayan hingga batas Kalimantan Barat-Kalimantan Tengah di Lamandau. Bang Bujang, sahabat baru tapi sudah bak teman puluhan tahun.
Jadi naik kapal dari Banjarmasin ke Surabaya. Dari Surabaya ke Malang. Ke Bromo-Semeru nanti saja. Tapi terus ke Jogja, Bandung, hingga Jakarta, lalu Merak-Bakauheni-Palembang sampai Riau. Mana lebih dekat menyeberang ke Batam lalu Singapura?
“Gak kepengen terus ke Medan dulu, ke Perbaungan—baru dari dari Belawan menyeberang ke Penang?” tawar Day. Dari Penang, lalu menyeberang Semenanjung Malaya—itu sudah separo Malaysia.
“Kita kunjungi teman-teman, juga basis-basis perantau Banjar. Kalau di Jawa okelah bisa dilewati, tapi kalau di Tembilahan-Riau, Perbaungan-Medan-Deli Serdang, di Perak-Perlis, Pathani, kan sayang dilewatkan begitu saja…” kata Day lagi. Ai ai, dari mana ide itu?
Lalu melintasi Asia Tenggara (Thailand, Laos, Burma), Asia Selatan (Pakistan, India, Iran, Irak)…Saya bayangkan kami melewati jalan-jalan Delhi dengan Shah Rukh Khan menyanyikan Chaiya Chaiya, dan Kuch Kuch Hota Hay saat melintasi Agra.
Barulan masuk ke Eropa dari Balkan, sampai di Sarajevo-Parisnya Eropa Timur, ke utara dikit ke Romania, dan keluyuran di Eropa Tengah, Swiss, Berstechgaden, Austria, berfoto dengan latar belakang gunung karang Eiger, ngebut di autobahn di Jerman hingga Belanda (saya dan Day ingin mengunjungi Enny dan beberapa teman yang tinggal di Denhaag) turun ke selatan ke Belgia-Perancis setelah sebelumnya curraheee, napak tilas pertempuran yang dijalani Easy Company, kompi dari resimen infanteri lintas udara Ke 506 Amerika Serikat dalam Perang Dunia II—tontonlah Band of Brothers, kawan—diantaranya kota-kota Arnheim, Eindhoven, Carentan, Bastogne, sampai Alsace di perbatasan Italia-Prancis—baru masuk Spanyol buat mengenang 700 tahun kejayaan Islam di Andalusia—salat di Masjid Al Hambra—dan sebelumnya lagi tinggal di timur Spanyol, di Catalan, di Barcelona.
Yup, Balikpapan, Banjarmasin, Barcelona.
O Aku ingin berdansa denganmu, my dearest Day, di Plaza Catalonia dengan iringan lagu Canon in D dari Johann Pachelbel yang dimainkan dengan biola, lalu Nothing Else Matters yang dimainkan Metallica bersama San Franscisco Philharmonic Orchestra.
Lalu bersenang-senang riang dengan lagu Barcelona om Fariz RM—mungkin dari playlist di GT B2710 ini.
Quiere darme su direccion, senorita? Ku ingin kau ajak serta malam ini.
Como se pronuncia oh juwita. Ingin kunyatakan cinta sepenuh rasa.
Hasta la vista mi amor. Penuh cinta…
Emm, kami tidak tidur di mobil malam itu.
(Boleh gak ya? Kan gak asyik tiba-tiba dirubung Satpol PP Pemkot Barcelona karena dianggap bikin ribut di tempat umum. Kartu pers saya yang lumayan sakti di Indonesia pasti tidak berlaku di sini, hahaha. Ah lagu Om Fariz itu lagu bagus dan tentang kota mereka, pasti semua yang dengar suka).
Mau berapa lama di Barcelona? Itu scam city, banyak copet dan penipu, kata Conor Woodman di National Geographic. Ya hati-hatilah. Masa gimbal gini takut—-jadi masih gimbal ni yaa. Casing tetap. Ok.
Dan ngapain lagi kalau bukan ke Nou Camp dan ikut jadi saksi El Barca menekuk Los Blancos si sombong Real Madrid.
Mungkinkah saat itu Messi masih ada di Barcelona? Mungkin masih. Jadi pemain senior dengan usia 34 tahun, dan entrenador Xavi Hernandez masih menurunkannya sejak dari menit pertama bila ia dalam kondisi fit.
Di mix zone saya pengen foto bareng dengan Jose Manuel Pinto yang jadi pelatih kiper, hehehe. Juga dengan Puyol, Carles Puyol jadi apa ya. Manajer Umum barangkali. Idola saya memang bukan striker dan pemain yang ganteng, tapi selalu kiper atau bek.
“Kalau saya mau foto bareng Fabregas,” kata Day. Waduh…saya jadi berpikir untuk menumbuhkan cambang dan kumis juga—lo, itu kan Pique. Eh, belum tentu FranCesc Fabregas masih main di Barcelona loh, my dearest Day.
“Cemburu yaaaa…”
Saya tak bisa mengelak. I do, I swear, by the moon and stars on the sky. Lebay, hahaha, tak perlu juga kau bersumpah Nov. Kemana All 4 One sekarang ya?
Setelah beberapa hari baru lanjut ke selatan dan menyeberang Selat Gibraltar—Jabal Tharik, tiba di Maroko, menjelajahi Alzajair dan Gurun Libya di Afrika Utara ke arah timur hingga Mesir, belok kiri kembali ke Asia lewat Terusan Suez, aduh, lewat mana masuk Jazirah Arab yaa, apa menyeberang Laut Merah saja seperti Musa langsung ke Jeddah? Atau terus aja ke Yordania, mampir di Al Quds Yerussalem di Palestina baru ke Arab Saudi lewat utara dan terus ke selatan hingga Madinah, baru Mekkah.
Ah, keren sekali. Road to Mecca versi kami, dengan segala kenangan kepada Mohammad Assad si Leopold Weiss (wartawan petualang penulis) dan guru saya pak Abdul Muthim yang juga suka buku itu.
Oh, bukankah Assad juga dikuburkan di Spanyol. Wah, dimana yaa. Harus ketemu beliau sebelum menyeberang ke Afrika.
Keren banget. Berapa lama itu? Berbulan-bulan, pasti. Berapa mahal itu? Jelas lebih mahal daripada naik haji dengan pesawat terbang.
“Tapi tanpa biaya akomodasi yang besar,” cetus Day. Kami kan bisa tidur di mobil, dan di mobil sudah disediakan semua keperluan tidur, ada velbed, ada tenda, ada sleeping bag.
“Kecuali di Barcelona, saya tak mau tidur di mobil di Barcelona,” katanya lagi. Saya juga tak mau, hehehe. Apalagi setelah dansa di Plaza Catalonia dan makan malam hidangan laut di Escriba di Poble Nou.
Konsumsi? Baru diomongin tadi. Makanan tersedia sepanjang jalan. Kalau tak ada atau meragukan, kami masak sendiri. Ada rice cooker di mobil, ada kompor, ada gas butana. Ada cooler box untuk sayur dan ikan. Ada Indomie Soto Banjar Limau Kuit, ada corned, ada telur.
Setidaknya sampai ujung Malaysia tak ada yang perlu dikhawatirkan soal makanan.
Bukankah tadi kami juga mengunjungi teman-teman dan membuat teman-teman baru. Barangkali juga mampir di setiap Kedutaan Besar Republik Indonesia atau di Konsulat Jenderal Republik Indonesia untuk bertemu Yang Mulia Duta Besar dan Berkuasa Penuh … atau Pak Konsulat …
Naaa, untuk ini kayaknya kartu pers Antara saya bisa menunjukkan kesaktiannya, hehehe. Mereka semua kan teman-teman Kang Oe yang sekretarisnya judes tapi baik itu.
Hmm, bagaimana setelah selesai ziarah haji ini ya, apa masih mau pulang lewat darat lagi? Apa masih ada energinya ya?
Wah, kalau pulang dengan pesawat pasti disambut pakai lawang sekepeng (pintu gerbang, hahaha) dengan doa semoga menjadi haji mabrur oleh anak-anak.
Apa mau lanjut ke Afrika? Kan tinggal mutar balik tu kembali ke selatan, ke Teluk Aden, lalu menyeberang Laut Merah ke Ethiopia atau Somalia. Mungkin jalan terus sampai Afrika Selatan seperti Charley Boorman dan Ewan McGregor. Bajak laut Somalia mungkin sudah diberantas kali yaaa…
Atau cukup menjelajah jazirah ini, ke selatan dulu ke Yaman, baru ke Oman, dan finish di Dubai, Uni Emirat Arab—pengen liat menara itu, Burj Khalifa.
“Masa mau jalan terus. Pulang dong dear,” kata Day. Ya ya, pulang. Tapi dari mana?
“Ya dari Dubai itu bolehlah. Mobil dikirim pulang dengan kargo sampai Balikpapan lagi. Pulang pakai pesawat. Aku ingin tidurrrr sampai Singapurrr …” kata Day lagi.
Mencurigakan. Kenapa tidurnya gak sampai Balikpapan, gitu? Mungkin ada hubungannya dengan mal yang sambung menyambung di Orchard Road itu kali ya? Hehehe. Baiklah, separo perjalanan ini dia juga menyetir bukan.
Hmm, iyalah. Itu Bunda Putri (hahaha) sudah bertitah. Walaupun masih rencana, tak boleh dibantah. Dan akuilah kalian, para lelaki, walaupun kadang terlihat terpaksa mematuhinya, memenuhi keinginan orang-orang yang kita cintai adalah salah satu alasan kenapa kita hidup.
I swear, by the moon and the stars on the sky. Demi bulan, demi bintang, demi langit malam. Nah, ini baru betul sumpahnya Nov. Hehehe.
Walaupun saya belum membuat sinkronisasi untuk perjalanan ini. Kapan harus mulai berangkat bila ingin tiba di Mekkah tepat waktu? Kapan El Classico Barcelona vs Real Madrid—jangan-jangan giliran Madrid yang jadi tuan rumah dan kami harus ke Santiago Berdebu, eh, Bernabeu itu, stadion terakhir yang saya ingin lihat di dunia ini, bahkan bagi saya lebih mulia lapangan rumput Stadion Parikesit, Stadion Persiba Balikpapan yang menjelma jadi sawah bila hujan itu.
“Ya belum tentu juga kita ke Santiago Bernabeu. Jadwalnya kan sudah jelas biasanya, ” Day menenangkan. Ia tak habis pikir mengapa saya selalu emosi bila berbicara tentang Barcelona versus Real Madrid.
“Lagipula, bukankah lebih manis kemenangan yang direbut di kandang lawan, bukan,” tambahnya. Oh may, I love you so much, babe.
Untuk jadwal kayaknya Day aja deh yang atur. Saya mengurus mobil saja, sebuah Daihatsu Hiline yang sederhana tapi komplet. Apa dan bagaimana mobil ini, I ll tell you later, buddy. Saya ceritakan nanti, sobat.
Well, perjalanan, kawan, seperti air yang mengalir. Air yang deras mengalir biasanya jernih meski ia sudah melalui banyak hal. Sampai ia menguap naik ke langit dan jatuh lagi ke bumi sebagai hujan.
Saya selalu ingin seperti itu. Deras mengalir sampai panas matahari menjemput.
Saat itu tiba, mungkin kita bisa ketemu lagi, Gie. Saya mungkin berpisah lagi dengan Day untuk sementara. Tapi my dear, setelah panas dan dingin dunia yang pun kelak kita jalani bersama, I love you, as always, hari ini di sini, atau nanti di kehidupan yang lain. ***
sebuah buku, sebuah pilihan
Hari itu, buku ini memilih saya. Sebuah buku yang sampul plastiknya sudah kuning dan sudah koyak. Banyak tangan sudah memegangnya.
Ia tergeletak di rak Karya Umum di Perpustakaan Wilayah (begitu sebutannya dulu). Rak Karya Umum adalah rak pertama setelah meja peminjaman buku, dari pintu depan kita masuk, ia ada di sayap kiri bangunan beratap tinggi dan dikelilingi jendela-jendela besar khas rumah banjar itu.
Buku itu tergeletak, tidak ikut berurut rapi dalam susunan buku. Tampaknya seseorang mengeluarkannya dari barisan, tapi tak jadi meminjamnya. Mungkin juga baru diletakkan lagi oleh petugas setelah baru dikembalikan namun belum sempat dimasukkan lagi ke urutannya.
Sebuah buku dengan cover warna merah, putih, dan hitam. Di bagian sampul di sepertiga bawah buku yang berwarna merah dilekatkan foto demonstrasi mahasiswa di tahun 1966 yang menggelora.
Sebuah buku setebal dan seukuran batu bata dari cetakan tahun 1989. Terbit pertama kali 1983. Pada sampul belakang ada foto hitam putih tampak samping seorang remaja Tionghoa berpipi tembem dan bercelana pendek, entah memandang apa dia di kejauhan.
Di bagian putih di tengah sampul depan, tertera judul buku ini. Judul itu ditulis miring 45 derajat ke arah kanan, dengan huruf courier dan seluruhnya huruf kecil, dalam tinta hitam yang tegas: catatan seorang demonstran
Di seperempat atas puncak buku, dengan dasar hitam dan tinta putih nama Soe Hok Gie ditulis dengan huruf Arial kurus setinggi 2 senti. Dia lah yang empunya catatan dan meninggal dalam usia 27 tahun di puncak gunung keramat itu.
Maka saya menemukan mau jadi apa saya nanti. Usia saya sudah 16 tahun, kelas 2A2.2 SMA Negeri 7, di Banjarmasin, di Kalimantan Selatan.
***
Jadi demonstran? Hehehe, bukan ternyata. Ah…, benarkah bukan?
“Saya tahu. Kamu kan memang sejak dulu kepengen jadi jurnalis,” kata Day.
Sejak dulu sejak kapan? Masa SMP itu saya hanya suka membaca dan menulis dan olahraga.
Cita-cita? Sudah lupa saya. Waktu SD pengen jadi insinyur pertanian karena suka desa, sawah, dan menanam sesuatu karena suka nonton acara Dari Desa ke Desa di TVRI (juga Lomba Kelompencapir yang pakai kentongan itu), dan sinetron Kisah Serumpun Bambu (kisah keluarga mas Barep yang sukses dan tinggal di desa)—dan Rumah Masa Depan (kisah yang berpusat pada keluarga Pak Sukri yang tinggal di Desa Cibereum). Juga pernah kepengen ikut transmigrasi dan jadi petani.
“Tapi saya benar kan. Kamu akhirnya jadi jurnalis juga,” Day bersikeras.
Orang-orang Taurus, atau Gemini (ah, my dear Day, kamu Taurus atau Gemini sih?)* memang keras kepala—dan saya bersyukur lahir di bawah Mars yang merah di bulan November. Konon, kami para scorpio dibekali DNA khusus untuk menghadapi cewek-cewek yang keras kepala seperti makhluk mungil di depan saya ini.
*(Day punya dua tanggal lahir resmi yang berbeda satu minggu. Di tanggal yang pertama ia adalah Taurus, tanggal yang kedua—yang selama ini saya tahu, memasukkan ia ke dalam Gemini).
“Kamu percaya zodiak?” kata Day dengan tatapan heran.
Saya percaya apa saja yang baik dan membuat saya bersemangat. Aslinya kan zodiak itu hasil riset yang luar biasa dari kelakuan manusia dan pergerakan benda-benda langit oleh para pengamat jenius di zaman Yunani Kuno. Seseorang kemudian menghubungkan kedua hal itu dan menemukan ternyata orang-orang scorpio selalu misterius dan kalau ia bisa jalan bareng dengan gemini atau taurus itu keajaiban karena kebersamaan mereka memerlukan pengorbanan yang luar biasa besar dari keduanya.
Masih ada halaman zodiak di majalah? Heheh, dulu sih saya juga pernah jadi peramal (penulis ngawur lebih tepat) bintang ini untuk majalah sekolah kami dan tabloid remaja yang bagus namun berumur singkat di Banjarmasin.
Tapi Day memang benar. Justru karena membaca dan menulis itulah saya jadi jurnalis dan tidak jadi petani profesional.
***
Lewat bukunya itu, Gie memberi semangat, model dan teladan, dan sebuah jalan hidup yang sangat menarik saya. Hanya mati muda yang saya tak mau, meski kawan-kawan di mapala pada berkoar mengutip puisinya, bahwa nasib terbaik adalah tak dilahirkan, dan kedua terbaik adalah mati muda.
(Saya juga tidak menggolongkan nasib saya jelek dalam usia yang sudah 10 tahun lebih tua dari Gie ini, yang meninggal di usia 27 tahun—Gie yang sosialis dan mungkin agnotis mungkin tidak pernah diberi tahu bahwa manusia boleh tahu semuanya, tapi tidak umurnya, rezekinya, dan jodohnya).
Tapi ya, Gie berada di zaman yang susah. Itu mungkin yang membuat mati muda menarik. Bersama dia ada Keith Moon, Janis Joplin, Jimi Hendrix, rombongan flower generation yang memang sungguh asyik, dan bukankah ribuan serdadu Amerika yang mati di Vietnam juga anak-anak muda?
Gie memberi contoh apa saja yang bisa ditulis oleh seorang anak, seorang remaja tanggung, remaja akhir, dan orang baru dewasa, serta orang dewasa. Gie menulis buku harian.
Saya mengikuti teladannya. Di buku harian yang buku tulis biasa (bukan buku tebal mahal wangi bersampul kulit, memang harusnya buku harian seperti apa?), saya mengikuti Gie memperhatikan semua yang tertangkap indra dan dirasakan hati dan terlintas berputar-putar di pikiran dan menuliskannya.
Meski demikian, di usia 16 tahun itu Catatan Seorang Demonstran hanyalah satu dari buku yang membuat saya terpesona. Beberapa tahun sebelumnya Marah Rusli sudah mempertemukan saya dengan Datuk Maringgih dan diharu biru Sitti Nurbaja dan gerombolan para pendekar sastra Balai Pustaka lainnya.
“Saya suka Di Bawah Lindungan Ka’bah,” kata Day. Oh, Hamka memang romantis—dan tragis. Entahlah, kenapa masa itu orang suka sekali menulis hal yang tragis dan penuh keputusasaan. Begitu pula bukunya yang lain, Tenggelamnya Kapal van Der Wijck—yang jadi favorit Fitriani Hayati dan Si Neng suka yang sudah jadi film.
“Hmm, siapa itu?”
“Siapa? Oh, Ipit…?”
“Yup.”
“Murid terpintar di kelas kami, I B, di sekolah kita dulu.”
Day mengangguk-angguk. Naluri perempuannya tampaknya tak percaya keterangan saya bahwa Hayati hanya ‘murid terpintar di kelas kami’. Oh please, no need to worry sweet, I am yours now.
Ehh, semua gadis itu yang tersebut itu, meski dari masa yang berbeda, Hayati, Day, Neng, seluruhnya alumni SMPN 3 loh.
Saya juga sudah terhanyut dalam petualangan Old Shatterhand di Winnetou Kepala Suku Apache atau Kara ben Nemsi yang diceritakan dengan sangat memikat oleh Karl May, berjilid-jilid cerita sejarah Tiongkok, pelajaran dan perkelahian kungfu tingkat tinggi, romantisme, dan khotbah Kho Ping Hoo, empat jilid buku Merdeka Tanahku Merdeka Negeri karangan Purnawan Tjondronegoro tentang bagaimana Overste Soeharto mengatur kembali pasukannya yang cerai berai dan memukul balik Belanda dalam 70 hari di kisah Serangan Oemoem 1 Maret 1949.
Juga Ringkasan Sejarah Islam yang ditulis A Latief Osman terbitan Bulang Bintang, buku tahun 1955 dari kumpulan buku milik Mama, dan buku yang ringkas ini, Mendaki Gunung, Sebuah Tantangan Petualangan, oleh Norman Edwin, seorang jurnalis petualang yang memuat alamat Kompas Borneo Unlam di Banjarmasin.
Dan, omitohud, siancai, siancai, hehehe, sorry bro, stensilan enny arrow juga. Kalian juga, bukan—dan anak-anak sekarang mendapatkannya dari internet dan situs-situs yang coba diblokir Kominfo.
Saya pun sudah melewati dua kali penataran Pendidikan Pengamalan dan Penghayatan Pancasila. Di penataran itu, sungguh, diajarkan, disebelah mana Anda lelaki harus berdiri bila bersama dengan perempuan. Di sisi mana Anda harus berada ketika menyeberang jalan yang ramai dengan seorang anak kecil, seorang tua, dan seorang wanita—tak peduli dia cantik atau tidak, gadis atau janda, kenal atau tidak.
Saya sudah jadi pelahap budaya pop yang disajikan majalah Hai, dan sudah berkenalan dengan Metallica.
Zaman saya adalah masa yang jauh lebih nyaman daripada masanya Gie. Saya sudah merasakan tetesan kue kemakmuran dari Jenderal Soeharto. Apa yang saya perlu perjuangkan ketika itu adalah masa depan saya sendiri. Nyaris tidak ada orang yang kelaparan di sekitar saya sehingga harus memakan kulit mangga yang didapatnya dari tempat sampah.
Saya bersekolah di sekolah terbaik di Kalimantan Selatan, mungkin saat itu juga terbaik di Kalimantan, dan salah satu sekolah terbaik di Indonesia.
Maka, yang paling mengesankan bagi saya dari buku Catatan Seorang Demonstran bukan kisah-kisah Gie dan kawan-kawannya turun ke jalan dan mengganyang para menteri plintat-plintut. Bukan itu.
Saya mengagumi bagaimana Gie, dalam usia yang sangat muda punya kesempatan membaca banyak buku bermutu dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris, buku-buku yang membuat ide-idenya berloncatan, pemikiran tentang bagaimana berbangsa dan bernegara mesti dijalankan.
Buku-buku yang membuat ia sangat kritis pada keadaan, pada kampusnya, pada dosen-dosen, pada kawan-kawannya, bahkan pada dirinya sendiri.
***
Saya jadi ingin membaca semua buku yang disebutkan Gie di dalam Catatannya itu—seperti saya ingin membaca semua buku yang dibaca Goenawan Mohammad yang menjadi inspirasi dari kebanyakan Catatan Pinggir, kolom yang ditulisnya untuk Tempo—majalah masa kecil saya.
(Sorry, mas Goen, bang Almin, kang Sunu, mas Baskoro, kak Leil, benar-benar majalah masa kecil saya—bacanya gantian dengan Bobo, Ananda, Si Kuncung, Kucica, Sahabat, Harmonis, Panji Masyarakat, dan banyak komik mulai dari Djaka Sembung-nya Djair sampai deretan Marvel dan DC Comics. Cuma saja saya bacanya di rumah Syamsul Muarif, orang Barabai yang kemudian jadi Menteri Kominfo—nanti cerita soal ini yaaaa).
Lalu, Gie juga suka menonton film, membuat puisi, naik gunung, dan aha…pacaran juga. (Walaupun kata Herman O Lantang, sahabatnya, Gie tidak punya pacar. Pengalaman cintanya tak sebanyak buku-buku yang dibacanya. Nah, ada teman perempuan mereka yang curhat soal cinta ke Gie, maka oleh Herman dan kawan-kawan lain dikatakan, itu sama saja curhat kepada dengkul).
Gie mengajari berpikir kritis dan berkata lugas. Waktu masih SMP dia sudah bisa berkata ‘guru bukan dewa dan murid bukan kerbau’ untuk menggambarkan guru pelajaran Bahasa Indonesia yang (barangkali lupa) apa saja karya bung Chairil Anwar sementara menyalahkan apa yang disebutkan Gie.
Gie pun terpaksa pindah sekolah karena sikap kritis ini. Perjuangan selalu ada harganya ya…
Pada saya, tak ada yang harus pindah sekolah. Malah saya jadi kuliah lebih lama karena keasyikan keluyuran—sejujurnya, karena bosan teori juga, tapi masih takut menghadapi dunia.
Tapi saya puas sepuas-puasnya. Saya cinta Indonesia tanpa indoktrinisasi, tetap cinta meski politikusnya benar-benar berlaku seperti tikus. Bila belum tahu seperti apa kelakuan tikus, teman, dengarlah petuah ayahnya Remy si tikus dalam film Ratatouille.
Seperti Gie, saya percaya kecintaan kepada bangsa dan negara hanya bisa tumbuh sehat bila kita mengenal obyeknya, yaitu bangsa dan negara itu, dan alam serta lingkungan tempat hidup manusia-manusianya.
***
Jadi benarlah entah kata siapa itu, buku adalah jendela dunia, meski Soekarno benci textbook thinking. Untuk bisa berkeliaran di alam bebas liar ini, sering kita harus membaca buku dulu, sobat. Soekarno bisa berkata begitu pastilah karena sudah melahap ribuan buku, seperti hanya musisi kugiran yang bisa berimprovisasi dengan nyaman.
Sekali-sekali, biarkanlah sebuah buku menemukan dan memilih Anda, lalu lihat dan rasakan apa yang terjadi kemudian.
(Pastikan majalah Playboy Anda tetap berada di rak tertinggi di dalam kamar, dan ada cukup kuat parental filter di saluran internet Anda). ***