Month: Oktober 2013

Cinta Dalam Setumpuk Buku

Posted on Updated on

Haruskah saya minta maaf karena menulis soal cinta lagi? Mas Rudi Gunawan bilang, tulisan hal cinta mencintai memang bisa mengharu biru, tapi banyak sekali yang menulis soal itu.

“Bejibun. Coba lihat di Gramedia atau toko buku lain,” katanya.

Di situ memang berderet-deret, bertumpuk-tumpuk novel-novel cinta, baik cinta remaja maupun cinta orang dewasa. Ada yang memuja pergaulan bebas, ada yang memoles dengan latar religi, ada yang bingung mau cinta seperti apa.

FX Rudi Gunawan sendiri menulis soal seks. Dulu ia punya kolom sendiri di majalah Jakarta Jakarta—majalah yang pemrednya Seno Gumira Ajidarma dan sudah dibunuh pemerintah. Saya tidak membaca kolom itu, tapi membaca kumpulan tulisannya yang dibukukan. Salah satu bukunya, di tahun 2002, kalau tak salah, saya beli patungan dengan Mahmud, kawan yang kutu buku tapi tanpa kacamata—demonstran tapi tak turun ke jalan.

Bukan karena uang kami kurang, sobat. Tapi karena bukunya, kebetulan, tinggal satu itu. Kami sepakat memilikinya bersama. Mahmud yang pertama membacanya, baru kemudian saya. Setelah itu kami sumbangkan.

Itulah, sepanjang ingatan saya, pertama kali saya memberikan buku kepada orang lain. Buku barang yang saya cintai selalu. Buku-buku saya adalah privasi saya, sehingga jangankan memberikan, meminjamkan buku saja saya hampir tak pernah. Bila ada teman yang ingin meminjam buku, perempuan sekali pun, yang cantiknya masya Allah, tetap saja tak bisa dari saya. Saya lebih suka menggeret dia ke perpustakaan, menguruskan keanggotaannya, dan silakan dia meminjam dari perpustakaan.

Hanya kepada Day saya meminjamkan buku. Itu pun dia harus mengembalikan dengan bunganya—yaitu minimal dengan selarik puisi.

Yang saya tarik ke perpustakaan itu diantaranya si Neng di suatu masa di antara 25 tahun saya kehilangan Day.

Kadang-kadang buku-buku saya dipinjam tanpa sepengetahuan saya. Biasanya satu dua buku yang saya bawa ke Sekretariat  kami di kampus, tempat dimana kita suka berkumpul hingga jauh malam dan akhirnya menginap.

Segera setelah sadar buku saya tak ada, saya menginterogasi semua orang dan memasang pengumuman di papan tulis putih besar (whiteboard) di dinding utama Sekretariat.

“Dicari, buku Catatan Pinggir 3, oleh Goenawan Mohammad, sampul hitam, punya Novi 302.Adri”

Si peminjam, setelah beberapa hari tak ada yang mengaku meminjam ataupun melihat, kemudia pasang pengumuman juga:

“Nov, trims bukunya, sudah saya balikin di loker kamu.”

Di bawah pengumuman dia, saya tulis ucapan terimakasih. “Terimakasih Windy.”

Hehehe, saya ada saja punya intelijen. Lagipula, meski di kalangan mahasiswa sekali pun, sementara ini tak terlalu sulit menduga siapa yang membawa buku kita tanpa izin.

Yang diperlukan, kata Hercule Poirot, adalah duduk sebentar dan biarkan sel-sel kelabu di dalam otak bekerja.

Fakta yang menyedihkan karena sebagian besar mahasiswa kita tetap saja tak doyan membaca. Itu membuat saya mudah menebak, hanya yang suka membaca juga yang meminjam buku saya.

Baru setahun ini lagi saya mulai suka memberi buku. Hari-hari ini masih sebagai suvenir atau tukar-menukar cenderamata. Bukan kebetulan selalu pas momennya.

Mei lalu, misalnya, saya membeli The Hobbit, bukunya JRR Tolkien yang dipajang di depan kasir Gramedia. Beberapa hari kemudian, saya berkesempatan mengunjungi Huliwa, Hutan Lindung Wehea.

The Hobbit bercerita tentang petualangan Bilbo Baggins di dalam Hutan dan bagaimana mereka membunuh Naga Smaug yang suka menumpuk harta. Saya membaca sepertiga terakhir buku itu di Wehea. Di Kampung Nehas Liah Bing di sela keriuhan festival Lomplai, dan satu bab terakhir di Stasiun Riset di tengah hutan di malam hari menjelang tidur.

Saya memberikan The Hobbit untuk Yatim, ranger yang menemani saya keluyuran di jalan-jalan setapak hutan sepanjang siang.

Yatim mengingatkan saya pada Strider, penjaga hutan yang berpatroli diantara Rivendell dan Shire dalam Lord of the Rings. Sayang tak ada Strider dalam The Hobbit, yang adalah pre-quel, cerita yang setting terjadinya sebelum kisah-kisah epik Lord of the Rings.

Kesadaran untuk berbagi dalam bentuk buku ini, untuk saya karena dicontohkan Iwan Piliang.  Bang Iwan Piliang ini suka memberi buku, yaitu buku yang sudah selesai dibacanya.

“Saya tidak terlalu punya waktu untuk mengurus buku-buku sekarang,” katanya. Jadi bila bukan buku referensi, buku rujukan, dengan segera si buku akan punya pemilik baru.

Andy F Noya, pembawa acara Kick Andy di MetroTV juga suka membagi-bagikan buku. Dengan kapasitasnya, ia dibantu penerbit buku atau penulis buku yang dibagikannya.

Seperti juga berbagi uang, memberi buku juga luar biasa. Apalagi memberi buku yang kiranya bermanfaat untuk mengubah isi kepala orang. Saya sendiri sering diberi buku dan sebagian buku itu juga mengubah cara saya memandang dunia.

Meski begitu, saya tetap saja menganggap buku privat. Saya memberikan buku yang sudah saya baca, tapi kemudian membeli lagi buku yang sama untuk disimpan.

Sepulang dari Wehea, saya membeli lagi The Hobbit, yang kali ini dibuka sampul plastiknya pun tidak.

Atau saya beli dua sekaligus (kalau lagi banyak uang, tentu—atau pas lagi ada diskon besar-besaran), dan satunya untuk diberikan.

Jadi, apa soal cintanya, Nov?

Saya jadi ingat ayah saya. Seperti orang Sunda, kami orang Banjar memanggil orangtua laki-laki dengan sebutan Abah.

Abah seorang guru, ia kemudian menjadi kepala sekolah. Salah satu yang pertama diberesinya ketika pertama kali menjadi kepala sekolah SD Arjuna di awal tahun 80-an itu adalah perpustakaan.

(Emm, sekolah ini tak jauh letaknya dari rumah masa kecil Day—jangan-jangan saya pernah bertemu dia saat kami masih imut begitu yaa.

“Mungkin. Tapi Ka Ida yang sekolah di situ pas tahun-tahun itu,” kata Day. Oh…I love you, really.)

Sekali-sekali saya ikut ke sekolah tempat kerja Abah. Oleh-oleh dari sekolah adalah sebungkus sate ayam yang lezat dan setumpuk buku untuk dibaca selama seminggu. Pun kalau saya tak sempat, Abah dengan senang hati membawakan setumpuk buku itu. Bukunya diikat tali rafia dan digantung di setang sepedanya, sebuah sepeda Phoenix warna hijau lumut.

Abah menumbuhkan kecintaan saya—adik-adik saya juga, kepada buku—hehe, mungkin awal cinta saya kepada Day juga.

Sekarang ia sudah pensiun. Masih suka membaca, suka mengaji, dan masih suka geleng-geleng kepala melihat kelakuan dan kebijakan pemerintah. Karena itu, dulu, sebelum keadaan menjadi sebebas sekarang, di tahun 80-an itu ia suka mendengarkan siaran radio gelombang pendek.

“Ini Radio Australia di Melbourne,”  katanya pada pukul 06.00 pagi, setelah kami mendengarkan siaran ceramah agama Islam oleh Ustaz Rafii Hamdie dari Radio Dakwah Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

Pada kesempatan lain ia menghadirkan BBC London dan kami sama-sama mendengarkan dentang lonceng Big Ben yang legendaris itu sebelum ia siap-siap berangkat kerja.

Kadang-kadang kami menangkap siaran Voice of America (VOA) dan Radio Belanda dari Hilversum untuk mendengarkan suara empuk Hilmar Farid.

“Abah PNS, tidak banyak yang Abah bisa lakukan karena berada di dalam sistem. Tapi Abah sebagai guru ingin kau tahu bahwa sudut pandang itu tidak milik satu orang atau satu rezim saja,” katanya.

Sore-sore, kami boleh menyetel tangga lagu rock yang digelegarkan Radio Ashbone (bacanya ‘asbun’, hahaha, itu singkatan dari ‘asal bunyi’) di 102.3 FM. Saya pun mulai memanjangkan rambut.

Tapi ia juga mengajak mendengarkan RRI, yang di Banjarmasin adalah RRI Nusantara 3, lalu kemudian menjadi RRI Banjarmasin saja. Penyiar hebat TVRI Sazly Rais pernah menjadi kepala stasiun di sini. Teman saya si Gorys juga bekerja di sini sambil kuliah.

Kami mendengarkan RRI sepulang sekolah. Setiap Sabtu pada pukul 13.30 ada acara Batanding Kesah yang dibawakan Ajamuddin Tifani. Ini acara yang seru—nanti saya cerita spesial deh.

Abah kami memerdekakan kami mulai dari cari berpikir sampai cara melihat persoalan. Bersama Mama, mereka memberi pilihan, bukan memaksakan pilihan. Ia suka mengutip apa yang dikatakan Muhammaad SAW, bahwa anak-anak memiliki zamannya sendiri.

Ia pun tahu kami selalu tidak puas pada pemerintah, baik sebelum reformasi maupun sesudah reformasi saat ini.

“Keadaan yang lebih baik itu harus diperjuangkan. Tugas kalian sekarang memperjuangkan itu,” nasihatnya.

Saya pun menjadi jurnalis. Adik-adik saya menjadi guru seperti kedua orangtua kami. Kami rupanya punya garis yang sama, tidak tertarik pada membuat perubahan langsung dengan aktif di politik, misalnya, tapi suka mengabarkan dan memberi pilihan-pilihan dengan harapan yang terbaik. ***

← Back

Pesan Anda telah terkirim

Peringatan
Peringatan
Peringatan
Peringatan

Peringatan!

Le Coup de Foudre

Posted on Updated on

Saya tak tahu persis, apakah Day dan saya itu jatuh cinta pada pandangan pertama, atau ikut pepatah orang Jawa, witing tresna jalaran saka kulina, cinta yang datang kemudian karena perasaan nyaman, diterima, saling pengertian, yang muncul sesudahnya. Apalagi seperti yang disebutkan Vincent Desailly, kawan saya si orang Prancis tukang panjat tebing, sebagai le coup de foudre ketika bicara cinta.

Apa itu? Seperti lighting strike, katanya menjelaskan dengan penuh kerendahan hati—orang Prancis tak suka Bahasa Inggris, tidak seperti kita yang gemar sok cas cis cus biar dikira intelek dan sekolah tinggi, hehehe. Atau orang dahulu memasukkan ungkapan-ungkapan Bahasa Belanda, ne, ne, …

Jadi, kata Monsieur Desailly, ketika mata bertatapan dan dua pandangan bertemu, petir itu pun menyambar. Lighting strike. Membutakan mata dan telinga. Kerap akal sehat juga. Lalu datang perasaan melayang-layang dan mabuk kepayang. Kalau di film-film Hollywood adegan berikutnya adalah pintu apartemen yang tergesa-gesa dibuka sambil sang lelaki memepet si wanita ke dinding dengan mulut menempel di mulut juga, lalu baju yang dibuka secepat-cepatnya, … dan ditutup mungkin dengan adegan pintu kamar ditutup dan jam weker yang berdering keesokan harinya dan tangan yang menggapai-gapai mencari tombol untuk membunuh weker itu.

Tapi, rasanya, setidaknya seingat saya, tidak demikian. Kami, mmmhh, bisa saja menjadi pasangan yang membara, yang membakar dan membutakan itu bila saya berkunjung ke Jakarta, atau Bogor, kota-kota di mana Day tinggal. Atau Day yang impulsif tiba-tiba muncul di Balikpapan. Full of passion, yes. Kami sama-sama dewasa dan sangat mengerti semua lika-liku cinta dan hubungan lelaki dewasa dan perempuan dewasa. Apalagi saat melewati Puncak dan melewatkan beberapa jam di Cibodas seperti kemarin.

Untung saja kami tumbuh bersama ketenaran Zainuddin MZ, Aa Gym, Imaduddin Abdulrachim, Arif R`achman, Sartono Mukaddis. Abahnya Day tak segan menghajar anak-anaknya, mereka semua 7 saudara, yang dianggap keluar jalur—itu cerita Day kemudian. Ibu saya mengajari anak-anaknya dan anak-anak orang lain bagaimana hidup secara ajaran Muhammad sejak mereka masih kecil. Jadi kami tidak perlu sradak-sruduk tidak jelas mau ikut isme apa atau penuh pergulatan batin. Yang ada hanya rasa syukur bahwa kita menghemat sangat banyak waktu karena itu. Juga menjauhi banyak masalah yang tidak perlu.

Semoga Tuhan selalu melindungi kami dari cerita erotis yang dibungkus sastra atau visualisasi gambar bergerak atas nama seni, keindahan, atau kebebasan berekspresi.

Maka malam itu, ketika Day menjemput saya dari mal yang ramai, mengajak saya mengitari Bogor dan Jakarta, pada akhirnya ia menyaksikan saya tertidur kelelahan di sofa di ruang tengah rumahnya. Sebulan sebelumnya, saya yang mengecup keningnya, dari wajahnya yang damai kecapekan di kamar hotel saya. Yang ini setelah nongkrong hingga dinihari di Jalan Jaksa dan menikmati musik reggae di bar dekat situ.

Cinta platonis? Sudah pasti tidak. Saya selalu ingin mencium bibirnya yang legit, menggandeng tangannya, memeluk bahunya. Bersama Day, saya pengen punya anak. Setidaknya satu. Satu cukup. Tapi Day, hmm, menolak.  Pertama, “Odi yang baik, usia saya sudah menjelang 40 tahun, saya bukan super woman, perempuan super seperti di zaman Khadijah.” Kedua, ada persoalan teknis kesehatan hal plasenta dan tempat menempelnya. Baiklah, kita serahkan saja soal ini kepada yang Maha Pemberi. Saya dan wanita mungil kaya pengalaman hidup ini tidak ingin jadi penambah keruwetan persoalan dunia yang sudah rumit.

Nakal, ya sudah pasti kami nakal juga sekali-sekali. Day, mungkin karena ingin menunjukkan pemberontakan atas otoritas ayahnya, jadi perokok. Menjadi perempuan perokok, apalagi bagi anak perempuan di tahun 80-an akhir, atau di awal 90-an di Banjarmasin yang puritan, itu adalah masalah besar dan wujud kenakalan yang parah (sekarang tentu saja perempuan merokok sudah biasa).

“Saya merokok sejak lulus SMP,” ungkapnya. Oww. Saya belajar merokok sejak SD, bersama Budi, seorang sahabat dan juga tetangga, tapi tak pernah jadi perokok kemudian. Ayah saya perokok berat dengan kretek, tapi segera berhenti begitu nikotin dan semua racun itu menggempur dadanya. Membuatnya muntah darah dan jadi penghuni rumah sakit beberapa hari. Melihat Abah sakit karena rokok, saya berhenti belajar merokok. Mama sampai beberapa waktu mengulang-ngulang cerita sakitnya ayah untuk menjauhkan kami dari rokok. Kami itu saya dan dua orang adik.

Saya kadang-kadang membolos sekolah. Atau sebaliknya, tidak pulang berhari-hari tapi tetap hadir di sekolah.

Hmm, kalau begitu, apakah cinta kami model dari remaja Jawa zaman pertengahan?

Saya rasa model Jawa itu juga tidak. Pertama, hehehe, kami berdua bukan orang Jawa. Day seorang Banjar dan pernah berbahasa Banjar dengan pelafalan huruf ‘r’ yang diucapkan dengan lidah bergelung. Kami berbahasa Banjar dengan dialek Banjar Kuala, nyaris tak berlogat. Tidak seperti orang Tabalong yang bisa ‘memanjangkan’ telur (telur (Indonesia) = hintalu (Banjar), lalu orang Tabalong mengucapkannya ‘hintaluuuuu’ dengan suara mengalun), atau orang Kandangan dan Barabai yang berbicara seperti berlagu dan dipenuhi afix, akhiran ‘lih’ sepanjang percakapan.

Saya berbahasa Inggris sekali-sekali. Sewaktu kami masih berusia 13 tahun untuk mengesankan Day, emm, dan sekarang karena kebiasaan. Day dan saya tidak pernah punya banyak waktu untuk selalu bersama, baik di masa silam, maupun di masa sekarang. Malah, saat ini, kami terpisah 1.350 km pada jarak udara, 15 derajat garis bujur, dan satu daerah waktu. Bukankah syarat utama witing tresna itu kehadiran, availablity, ketersediaan dan kedekatan, proksimitas.

Karena itu bos banyak yang menikahi sekretarisnya, guru mengawini muridnya. Tuan sayang pada pembantunya hingga sengaja tak sengaja sekalian menghamilinya, dan beberapa contoh lain. Atau suami yang mengambil istri kedua di tempat kerja yang baru…atau istri yang punya pria idaman lain karena suami tak lagi punya waktu dan hati mendengarkan (karena sibuk dengan pekerjaan baru dan istri baru, hehehe).

Saya iseng menghitung, hari ini, kami paling lama bersama 18 jam. Itulah waktu dari saya dijemput sore itu hingga kami berpisah hari berikutnya di tempat berbeda. Itu pun saya duduk di Starbuck selam 7 jam menunggu dia yang sibuk. Selama itu, saya mengisi perut dengan caffelatte, setengah batang cokelat, mengisi benak dengan cerita dari 150 halaman buku, dan menulis dua judul berita masing-masing 300 kata. Tentu saja, sambil online.  Dari situ Day memantau saya.

“Masih di situ?” katanya.
“Masih,” saya menyahut.
“Saya masih harus ke downline saya dulu yaaa…”
“Baiklah. I love you.”
“I love you too.”

Melihat kesibukannya, saya bergidik. Mungkin ia ingin menyiapkan segala sesuatu sebelum nanti menjadi, emmm, seorang nyonya dari kekasihnya, yaitu saya, yang seperti tidak pernah mapan secara finansial. Bisnis MLM kan bisa bekerja sendiri kemudian.

Saya sendiri, karena sudah terlanjur punya irama jurnalis yang serba mendadak, serba serius, dan kerap kali memaksa orang terpisah dari rumah dan semua yang dicintainya, jadi sangat peduli hal-hal domestik karena merindukan yang sedemikian.
“Sudah makan?” itu pertanyaan saya.
“Sudah beib…” ini jawaban Day.
“Jaga kesehatan…” ini dari saya lagi.
“Pasti…” jawab Day.
Tegas dan pendek-pendek. Ia memang seperti tidak punya kelegaan waktu untuk menjawab panjang lebar. Bagi Day, mencintai berarti berbuat, meski itu hanya menyahut dalam hati. Tak banyak kata-kata. Pesan panjang lebar saya di facebook, hanya dilihat saja (seen at…).
Ini agak menjadi masalah buat saya yang melankolis. Membuat frustrasi.
“Say something please…” kata saya.
“Kamu tahu jawaban saya,” tandasnya. Mmmhhh.

Ini bukan juga cinta ala kawan-kawan aktivis keislaman, baik di masjid di kampus atau di partai masing-masing. Mereka tidak berpacaran atau berkencan, tidak pergi menonton film, apalagi keluyuran malam-malam seperti yang kami lakukan. Kami bergandengan tangan dan berciuman. Day memang memutuskan berkerudung, namun ia masih sedang berjuang keras memperbaiki disiplin salatnya. Saya sama saja. Bagian salat itu maksudnya, bukan soal kerudung, hahaha. Walau saya suka pakai bandana seperti perempuan berkerudung juga.
“Salat dulu sana, deadline berita masih lama. Deadline salat 5 menit lagi,” katanya dari jarak 1.350 km. “Iya beb,” barulah saya beranjak untuk salat zuhur. Dan disambung salat ashar karena langsung masuk waktunya. Day terkekeh.

Jadi, ini memang bukan cinta ala lightning strike, le coup de foudre, cinta pada pandangan mata yang menghanguskan, bukan pula witing tresna jalaran saka kulina yang diam-diam menghanyutkan. Jelas bukan model ikhwan dan ukhti PKS yang serba lurus dan putih itu.

“Bagaimana kalau tak usah dipikirkan apa modelnya. Anggap saja ini custom khas Day dan Odi. Kamu sendiri bilang, setiap hubungan itu unik,” katanya.

Maka saya membacakan puisi Soni Farid Maulana, Day memilih puisi Sapardi Djoko Damono. Saya mendendangkan Iwan Fals, Van Halen, Deep Purple, Metallica. Day mengajak menyimak Krakatau, Karimata, Bhaskara, juga God Bless dan Beethoven. Tentu saja, ‘Tentang Kita’-nya Kla Project.

Day mengutip puisi SDD:
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Walaupun ternyata hubungan kami rumit sekali, baik di masa lalu itu, apalagi saat sekarang.

Memetik gitar, saya nyanyikan Buku Ini Aku Pinjam dari Bang Iwan sambil mengenang Day sebagai gadis kecil yang saya sapa dengan penuh kegugupan di selasar sekolah kami dulu, sebuah sekolah yang didirikan di atas kayu-kayu ulin pada tahun 1956 di tepi Jalan Jati di Banjarmasin yang masih sepi.

Buku ini aku pinjam
Kan ku tulis sajak indah 

Hanya untukmu seorang 

Tentang mimpi-mimpi malam

Walaupun faktanya saya yang meminjami buku dan menanti puisi darinya. ***

← Back

Pesan Anda telah terkirim

Peringatan
Peringatan
Peringatan
Peringatan

Peringatan!